160 x 600 AD PLACEMENT
160 x 600 AD PLACEMENT
160 x 600 AD PLACEMENT
160 x 600 AD PLACEMENT
Advertisement

Dari Kandang ke Kursi Dewan, Jalan Panjang I Nyoman Sumadi Menjaga Asa di Usaha Ayam Petelur

Deskripsi gambar
Judul atau caption gambar (opsional)

Karangasem, Bali Terkini- Di sebuah sudut Desa Pesedahan, Kabupaten Karangasem, rutinitas pagi I Nyoman Sumadi dimulai dengan hal sederhana, memperhatikan ayam-ayamnya makan.

Advertisement

Bagi sebagian orang, itu mungkin aktivitas biasa. Namun bagi Sumadi, momen itu adalah sumber ketenangan sekaligus penanda perjalanan panjang yang telah ia tempuhdari karyawan bank hingga menjadi peternak ayam petelur sukses, bahkan kini duduk sebagai anggota DPRD Karangasem.

Semua bermula pada 1993. Saat itu, Sumadi masih bekerja sebagai karyawan bank dengan penghasilan yang dirasanya belum mampu menjawab kebutuhan hidup. Di tengah kebimbangan itu, sang paman datang membawa peluang 100 ekor bibit ayam petelur. Tawaran sederhana, tapi cukup untuk menyalakan tekad baru.

“Dari situ saya mulai belajar. Sambil kerja di bank, saya pelihara ayam,” kenangnya.

Selama lima tahun, ia menjalani dua dunia sekaligus: dunia perbankan yang mengajarkannya soal kredit usaha, dan dunia peternakan yang mengasah ketekunan. Dari sana, muncul satu pertanyaan besar dalam dirinya—mengapa ia tidak membangun usahanya sendiri?

Tahun 1995 menjadi titik keputusan. Ia memilih keluar dari pekerjaannya dan fokus penuh menjadi peternak. Jumlah ayamnya bertambah menjadi 300 ekor. Namun, langkah berani itu tidak langsung berbuah manis.

Ujian datang silih berganti. Tahun 1998, wabah virus menyerang dan memukul usahanya. Belum pulih sepenuhnya, serangan serupa kembali datang di awal 2000-an. Flu burung pun sempat menghantam, membuat kerugian kembali tak terhindarkan.

Cobaan paling dekat terjadi saat pandemi COVID-19. Daya beli masyarakat anjlok, harga telur ikut tertekan. Sumadi bahkan harus menanggung kerugian hingga Rp6 juta per hari.

Advertisement

“Waktu itu sempat merasa berat sekali,” ujarnya.

Namun, menyerah bukan pilihan. Di tengah keterpurukan, ia tetap memegang satu keyakinan: telur adalah kebutuhan pokok yang akan selalu dicari orang. Keyakinan itu menjadi jangkar yang menahan dirinya agar tetap bertahan.

Titik balik datang pada 2022. Sumadi mulai menata ulang kandang-kandang kosongnya, mengisinya kembali dengan ayam petelur. Perlahan, roda usaha kembali berputar. Kini, jumlah ternaknya melonjak hingga sekitar 20 ribu ekor, dengan kondisi usaha yang relatif stabil.

Di balik angka-angka itu, ada hal sederhana yang tetap ia jaga: rasa suka. Baginya, melihat ayam makan dengan sehat menghadirkan kepuasan tersendiri yang tak bisa diukur materi.

“Memang dari awal saya sudah senang. Jadi tidak ada rasa takut berlebihan, karena saya sudah merasa happy di sini,” katanya.

Kisah Sumadi bukan sekadar tentang bertahan dalam usaha, tetapi juga tentang keberanian mengambil keputusan dan konsistensi menghadapi ketidakpastian. Dari kandang ayam di desa, ia membuktikan bahwa ketekunan bisa membuka jalan—bahkan hingga ke kursi dewan. (dkk)

Deskripsi gambar
Judul atau caption gambar (opsional)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Lainnya
930 x 180 AD PLACEMENT