160 x 600 AD PLACEMENT
160 x 600 AD PLACEMENT
160 x 600 AD PLACEMENT
160 x 600 AD PLACEMENT
Advertisement

Gebug Ende Tradisi Adu Rotan yang Jadi Warisan Leluhur di Desa Seraya

Deskripsi gambar
Judul atau caption gambar (opsional)

Karangasem, Bali Terkini- Suara benturan rotan dengan perisai kayu bakal kembali mewarnai Seraya Culture Fest (SCF) ke 5.

Advertisement

Tradisi Gebug Ende yang menjadi ciri khas masyarakat Desa Adat Seraya, Kecamatan Karangasem, Kabupaten Karangasem, tetap dipertahankan sebagai pertunjukan utama dalam festival yang berlangsung 5-7 November 2026.

Dalam tradisi ini, dua kelompok pria saling berhadapan. Mereka menggunakan ende atau perisai sebagai pelindung dan penjalin berupa rotan sebagai senjata untuk saling menyerang dan menangkis pukulan.

Pertunjukan yang mengandalkan ketangkasan dan keberanian tersebut dijadwalkan berlangsung setiap hari selama festival, mulai pukul 16.00 hingga 18.00 Wita.

Kelian Desa Adat Seraya, I Made Salin, mengatakan Gebug Ende merupakan identitas budaya yang hingga kini masih dijaga oleh masyarakat setempat.

“Ini menjadi ikon Seraya. Gebug Ende tidak ada selain di Seraya. Tradisi ini merupakan satu-satunya yang dimiliki desa kami,” ujarnya, Rabu (4/11/2026).

Gebug Ende tidak hanya tontonan adu kekuatan fisik. Tradisi turun-temurun ini memiliki makna tersendiri bagi masyarakat Seraya, terutama berkaitan dengan kepercayaan memohon turunnya hujan saat kemarau panjang.

Menurutnya, penyelenggaraan Seraya Culture Fest menjadi ruang untuk memperkenalkan tradisi tersebut kepada masyarakat yang lebih luas. Terlebih, festival ini juga diharapkan bisa mendekatkan warisan budaya leluhur kepada generasi muda.

Advertisement

2. Gebug Ende jadi agenda utama festival selama tiga hari

Ketua Panitia SCF 5, I Wayan R. Supertama, mengatakan pihaknya tetap menempatkan Gebug Ende sebagai kegiatan utama dalam festival tahun ini.

Pelestarian tradisi menjadi salah satu alasan Gebug Ende terus dihadirkan di tengah rangkaian kegiatan yang dikemas lebih modern.

“Tradisi Gebug Ende Seraya tetap menjadi kegiatan utama yang kami pertahankan. Ini merupakan warisan leluhur masyarakat Seraya yang harus terus dilestarikan dan dikenalkan kepada generasi muda,” katanya.

Mengusung tema Harmony of Art, Tradition, Nature & Culture, SCF ke 5 dipusatkan di Lapangan Ki Kopang dan Pantai Bias Lantang, Desa Seraya.

Selain Gebug Ende, pengunjung juga dapat mengikuti sejumlah kegiatan, mulai dari yoga bersama Komunitas Yoga Karangasem, fun fishing, hingga lomba tari Bali.

Panitia turut mengagendakan donor darah dan penyerahan bantuan perlengkapan sekolah bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu.

Tidak hanya menyuguhkan tradisi dan kegiatan budaya, Seraya Culture Fest tahun ini juga menghadirkan sejumlah musisi untuk meramaikan suasana festival.

Beberapa pengisi acara yang dijadwalkan tampil di antaranya Lolot Band, Ray Peni, DJ Mahesa, Bayu KW, dan Sengap CS. Mereka akan tampil bersama sejumlah musisi lokal seperti Osibisa Reborn, East Project, Rahayu Koplo, Rupawan, dan Wira Ardana.

Festival tersebut rencananya dibuka langsung oleh Bupati Karangasem, I Gusti Putu Parwata.

Supertama berharap penyelenggaraan festival tidak hanya menjadi ajang pelestarian budaya, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat setempat.

Salah satunya dengan melibatkan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk memasarkan produk mereka selama kegiatan berlangsung.

Pihaknya juga berharap Gebug Ende semakin dikenal sebagai daya tarik wisata budaya sehingga mampu menarik kunjungan wisatawan ke Desa Seraya dan Kabupaten Karangasem. (dkk)

Deskripsi gambar
Judul atau caption gambar (opsional)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Lainnya
930 x 180 AD PLACEMENT