160 x 600 AD PLACEMENT
160 x 600 AD PLACEMENT
160 x 600 AD PLACEMENT
160 x 600 AD PLACEMENT
Advertisement

Wastra Hitakara Guncang Bangli, 7 Desainer Muda Sulap Kain Tradisional Bali Jadi Fashion Kekinian

Suasana Dekranasda Bali Fashion Road Show ‘Wastra Hitakara’ yang digelar di Alun-alun Kota Bangli, Kamis (10/9/2026).
Deskripsi gambar
Judul atau caption gambar (opsional)

Bangli, Bali Terkini – Kain tradisional Bali tak lagi sekadar identitas budaya yang tersimpan dalam lemari. Di tangan tujuh desainer muda, wastra Bali disulap menjadi busana kekinian yang menyasar selera pasar sekaligus menjadi strategi untuk menjaga eksistensi kain tradisional di tengah gempuran tren fashion modern.

Advertisement

Transformasi tersebut ditampilkan dalam Dekranasda Bali Fashion Road Show “Wastra Hitakara” yang digelar di Alun-Alun Kota Bangli, Kamis (10/9/2026). Sebanyak 30 model memperagakan karya tujuh desainer muda Bali dengan mengusung kekayaan wastra sebagai bahan utama kreasi busana.

Ketua Dekranasda Provinsi Bali, Putri Koster, mengatakan pelestarian wastra tidak cukup hanya dengan menjaga kain sebagai warisan budaya. Kain tradisional harus tetap digunakan agar keberadaan perajin dan produksinya terus bertahan. “Perajin kain endek kita semakin sedikit dan tergerus karena minimnya masyarakat Bali yang memilih endek sebagai bahan sandang. Oleh karena itu, upaya memperkenalkan kain endek dalam bentuk busana terus saya lakukan,” ujar Putri Koster.

Baca Lainnya : Aksi Sosial “Bergerak dan Berbagi” Kembali Sasar  Bangli, Putri Koster Tekankan Gizi Anak hingga Pelayanan BPJS

Menurutnya, salah satu cara menjaga keberlangsungan wastra adalah membuatnya mampu mengikuti perkembangan zaman. Karena itu, kreativitas desainer diperlukan agar kain tradisional dapat hadir dalam bentuk busana yang lebih modern dan mudah diterima masyarakat.

Putri Koster berharap kegiatan yang dilaksanakan secara bergiliran setiap bulan tersebut mampu mendorong masyarakat menggunakan busana berbasis wastra Bali, bukan hanya untuk kegiatan adat, tetapi juga sebagai busana kerja maupun pakaian sehari-hari.

Di Bangli, tujuh desainer muda tampil membawa karya masing-masing. Mereka yakni A Tiga by Turah Mayun, Taksu Design by Adhi Taksu, Agung Bali Collection by Agung Indira, Limas Boutique by Yenni Limas, Deluxe Design by Dayu Dian, Ipong Design by Ipong, serta Body & Mind Bali by Dayu Karang.

Baca Lainnya :  Hobi Berburu Berujung Maut, Warga Bangli Tewas Diduga Tertembak Senapan Angin Sendiri

Advertisement

Karya yang ditampilkan menunjukkan wastra Bali memiliki ruang luas untuk terus dieksplorasi. Motif dan karakter kain tradisional dapat dipadukan dengan potongan serta desain modern tanpa menghilangkan identitas budaya yang melekat. Tak berhenti di atas panggung, busana yang diperagakan juga dapat langsung dipilih dan dibeli oleh para undangan. Konsep ini membuat “Wastra Hitakara” tidak sekadar menjadi ajang pertunjukan fashion, tetapi sekaligus menjadi ruang promosi dan pemasaran.

Kegiatan tersebut turut dihadiri Bupati Bangli Sang Nyoman Sedana Arta, Wakil Bupati Bangli I Wayan Diar, Sekda serta sejumlah pimpinan perangkat daerah di lingkungan Pemkab Bangli. Kehadiran jajaran pimpinan daerah menjadi bentuk dukungan Pemkab Bangli terhadap pengembangan industri kecil dan menengah (IKM), khususnya sektor kerajinan dan fashion yang mengangkat potensi budaya lokal.

Ketua Dekranasda Kabupaten Bangli, Ny. Sariasih Sedana Arta, mengapresiasi dipilihnya Bangli sebagai salah satu lokasi pelaksanaan Dekranasda Bali Fashion Road Show “Wastra Hitakara”. Menurut Sariasih, kegiatan tersebut memberikan kesempatan bagi pelaku IKM Bangli untuk memperlihatkan kemampuan sekaligus memperkenalkan produk unggulannya kepada masyarakat yang lebih luas.

Baca Lainnya : Bukan Sekadar Upacara, Tumpek Uye Jadi Momentum Bangli Jaga Alam dan Satwa

Ia menilai perkembangan IKM Bangli menunjukkan tren positif, baik dari sisi kualitas maupun keberagaman produk. Namun, potensi tersebut perlu didukung dengan ruang promosi dan pemasaran yang lebih luas agar produk lokal mampu meningkatkan nilai tambah dan daya saing.

“Melalui kegiatan ini, kami ingin memberikan ruang dan kesempatan kepada para pelaku IKM Bangli untuk menampilkan hasil karya terbaiknya. Kita ingin produk lokal Bangli tidak hanya mampu bertahan, tetapi terus berkembang, memiliki nilai tambah, serta mampu bersaing di tingkat regional maupun nasional,” tutur Sariasih.

Pengembangan fashion berbasis wastra Bali sendiri diperkuat melalui tiga program utama Dekranasda Provinsi Bali, yakni Dekranasda Bali Fashion Day, Dekranasda Bali Fashion Week, dan Dekranasda Bali Fashion Road Show “Wastra Hitakara”.

Rangkaian kegiatan tersebut diharapkan mampu memperluas penggunaan wastra sekaligus membuka pasar bagi produk fashion berbasis budaya. Sebab, semakin tinggi penggunaan dan permintaan terhadap wastra, semakin besar pula peluang perajin dan pelaku IKM untuk bertahan serta berkembang. (***)

 

Deskripsi gambar
Judul atau caption gambar (opsional)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Lainnya
930 x 180 AD PLACEMENT