160 x 600 AD PLACEMENT
160 x 600 AD PLACEMENT
160 x 600 AD PLACEMENT
160 x 600 AD PLACEMENT
Advertisement

Catatan Perjalanan IB Ngurah Wijaya: Dari Sanur hingga Jalanan Dunia, Tertuang dalam Dua Buah Buku

Deskripsi gambar
Judul atau caption gambar (opsional)

Denpasar, Bali Terkini – Usia boleh bertambah, tetapi semangat untuk terus melangkah tidak mengenal batas. Bagi Ida Bagus Ngurah Wijaya, perjalanan hidup bukan sekadar rangkaian waktu yang telah dilewati, melainkan cerita yang layak diwariskan.

Advertisement

Perjalanan panjang tersebut kini dituangkan dalam dua buku yang menghadirkan dua sisi berbeda dari kehidupannya. “Menembus Horizon” merekam perjalanan personal, keluarga, dan pengabdiannya, sementara “World Solo Ride” membawa pembaca mengikuti petualangannya menjelajahi dunia dengan sepeda motor.

Baca lainnya Sanur Fashion Week 2026 Babak Baru Industri Mode Bali, Jadikan Breakwater Pantai Sebagai Panggung Catwalk

IB Ngurah Wijaya menceritakan kedua buku itu memiliki cerita yang berbeda, tetapi bertemu pada satu benang merah, yakni keberanian untuk terus bergerak dan meninggalkan jejak bagi generasi berikutnya.

“Saya sudah selesai melakukan kewajiban saya sebagai orang lah ya. Pada umur 68 tahun 2016 saya selesai semuanya. Baik pekerjaan saya di usaha saya sendiri maupun sama teman-teman di asosiasi,” ungkap Ngurah Wijaya saat menceritakan perjalanannya yang dibukukan, di Segera Village Hotel Sanur, Kamis (9/9).

Buku itu, lanjut dia, merangkum semua apa yang dia kerjakan dari awal mulai masa sekolah sampai masa wanaprasta atau sejak meninggalkan pekerjaan dan tinggal menikmati masa tuanya. Namun buku ini dikemas agak berbeda dengan otobiografi pada umumnya karena disini lebih menonjolkan biografi dengan testimoni.

Baca lainnya Volkswagen Lost in Paradise (VLIP) #6, dari Camping, Touring hingga Berbagi

“Ya bukan ini bukan hanya dari saya saja, tapi dari teman-teman semua. Saya lebih banyak fokus kepada testimoni karena mereka pun mendapat dampak dari apa yang telah saya kerjakan bersama-sama mereka,” tegasnya.

Advertisement

Buku Menembus Horizon dan World Solo Ride ini akan dilaunching secara resmi pada Jumat, 11 September 2026 di Taman Jepun Cafe & Resto Denpasar.

Menembus Horizon, Merekam Perjalanan dari Dekat
Melalui buku “Menembus Horizon: Memoar IB Ngurah Wijaya”, pembaca diajak mengenal sosok IB Ngurah Wijaya dari sisi yang lebih personal. Buku ini tidak hanya bercerita tentang perjalanan dirinya, tetapi juga menelusuri lintas generasi keluarganya, masa kecil, pendidikan, pengalaman di luar negeri, hingga perjalanan panjangnya di dunia perhotelan dan pariwisata.

Pengalaman membangun persahabatan, menjalankan peran sebagai Konsul Kehormatan, serta berbagai peristiwa yang membentuk karakter dan cara pandangnya turut menjadi bagian dari memoar tersebut. Menembus Horizon juga menyimpan potongan sejarah perkembangan Sanur, Segara Village Hotel, serta pariwisata Bali yang dilihat dari pengalaman pribadi dan keluarganya.

Karena itu, buku tersebut tidak berhenti sebagai sebuah biografi. Di dalamnya terdapat cerita tentang keluarga, keberanian, persahabatan, perubahan zaman, hingga gagasan mengenai warisan atau legacy yang diteruskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

World Solo Ride, Ketika Usia Bukan Batas Petualangan
Jika Menembus Horizon mengajak pembaca melihat perjalanan Ngurah Wijaya dari dekat, “World Solo Ride: Dari Bali, Membawa Merah Putih Menjelajah Dunia” memperlihatkan sisi lain dirinya sebagai seorang petualang.

Baca lainnya Bupati Satria Terima Audiensi Tim PPK Ormawa FH Unud, Apresiasi Rencana Desa Nyalian Jadi Desa Wisata

Di saat banyak orang seusianya mulai menikmati masa pensiun, Ngurah Wijaya justru memilih terus bergerak. Sepeda motor menjadi kendaraan untuk menjelajah berbagai negara sekaligus membawa identitas Bali dan Indonesia dalam setiap perjalanan.

Yang membuat petualangan tersebut berbeda adalah sepeda motor yang dikendarainya tetap menggunakan pelat nomor DK, kode kendaraan dari Bali. Di perjalanan itu, ia juga membawa bendera Merah Putih.

Perjalanan dimulai dari Bali dan membawanya melintasi berbagai negara dengan kondisi medan, cuaca, serta budaya yang berbeda. Dari panasnya gurun Namibia hingga jalan-jalan menantang di Norwegia, perjalanan tersebut menjadi rangkaian pengalaman yang jauh melampaui urusan jarak dan kendaraan.

Pada usia 69 tahun, Ngurah Wijaya terlebih dahulu mengelilingi Indonesia dengan sepeda motor. Memasuki usia 73 tahun, langkahnya justru semakin jauh, menembus batas negara dan benua. Namun, World Solo Ride bukan sekadar catatan mengenai rute perjalanan, sepeda motor, atau jumlah kilometer yang ditempuh.

Di balik setiap perjalanan terdapat cerita tentang keberanian, ketahanan, kebebasan, perjumpaan dengan orang-orang dari berbagai latar budaya, hingga kemampuan menghadapi situasi tak terduga seorang diri di negeri asing. Ada pula kebanggaan yang melekat pada setiap kilometer.

Dua Buku, Satu Pesan
Jika dirangkum, kedua buku tersebut seperti dua sisi dari satu perjalanan hidup. Keduanya sekaligus menjadi catatan tentang Bali dan Indonesia yang dibawa ke ruang yang lebih luas.

Menembus Horizon berbicara tentang akar—keluarga, pengalaman, pekerjaan, persahabatan, dan perjalanan panjang yang membentuk seorang Ngurah Wijaya.

Sementara World Solo Ride berbicara tentang langkah—tentang keberanian meninggalkan zona nyaman dan membuktikan bahwa keinginan untuk menemukan dunia tidak berhenti hanya karena usia bertambah.

Deskripsi gambar
Judul atau caption gambar (opsional)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Lainnya
930 x 180 AD PLACEMENT