


Badung, Bali Terkini – Kepala Badan Karantina Indonesia (Barantin) Abdul Kadir Karding menegaskan bahwa karantina tidak hanya berfungsi melindungi sumber daya hayati Indonesia dari ancaman hama dan penyakit, tetapi juga harus menjadi instrumen yang mempercepat arus ekspor dan impor.

Hal tersebut disampaikan Karding saat menghadiri Sarasehan Eksportir Bali di Badung, Jumat, 17 Juli.
Sesuai amanat Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2019 tentang Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan, menempatkan karantina sebagai garda terdepan biosekuriti sekaligus alat ekonomi yang mendukung kelancaran perdagangan internasional.
“Kalau dulu karantina hanya dipahami sebagai lembaga yang memeriksa barang, sekarang tugas kami jauh lebih luas. Kami menjaga biosekuriti agar ancaman penyakit pada hewan, ikan, dan tumbuhan tidak masuk ke Indonesia, sekaligus memastikan proses ekspor dan impor berjalan lebih cepat, efektif, dan efisien,” kata Karding.

Ia mencontohkan wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada 2022 yang masuk melalui wilayah Aceh dan kemudian menyebar ke berbagai daerah. Dampak ekonomi yang ditimbulkan sangat besar, dengan kebutuhan anggaran pemulihan mencapai sekitar Rp38,6 triliun.
Selain menyebabkan kerugian ekonomi, wabah tersebut juga mengakibatkan penurunan populasi ternak secara signifikan. Menurut Karding, kejadian itu menjadi pelajaran bahwa pencegahan selalu lebih murah dibandingkan penanganan setelah penyakit menyebar.
“Karena itu fungsi biosekuriti tidak bisa ditawar. Pencegahan harus diperkuat agar ancaman penyakit tidak mengganggu ketahanan pangan maupun perdagangan,” ujarnya.

Di sisi lain, Karding mengakui masih terdapat sejumlah kendala yang dikeluhkan pelaku usaha, mulai dari pemeriksaan berulang, birokrasi yang panjang, hingga lamanya waktu pelayanan yang berpotensi menurunkan kualitas komoditas ekspor, terutama produk perikanan dan hortikultura yang mudah rusak.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, Barantin tengah memperkuat integrasi layanan dengan berbagai instansi terkait serta mengembangkan digitalisasi proses sertifikasi agar pelayanan menjadi lebih cepat tanpa mengurangi aspek pengawasan.
“Karantina tidak boleh menjadi bottleneck. Kami ingin menjadi accelerator sehingga eksportir bisa memperoleh pelayanan yang cepat, namun keamanan hayati tetap terjaga,” pungkas Karding.
