


Karangasem, Bali Terkini- Tidak semua orang memulai perjalanan hidup dengan kondisi serba cukup. Bagi I Gede Adi Putra, SH, C.BMed., masa kecil justru menjadi tempat pertama ia belajar tentang kerja keras, keterbatasan, dan bagaimana bertahan menghadapi keadaan.

Pria yang akrab disapa Gus Adi itu tumbuh di Desa Tegallinggah, Karangasem. Sejak berusia lima tahun, ia diasuh oleh neneknya.
Sementara sang ibu bekerja sebagai buruh pemanen padi untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
Kehidupan sederhana membuat Gus Adi terbiasa bekerja sejak kecil.
Salah satunya mencari daun ketela rambat untuk pakan babi. Dari aktivitas tersebut, ia bisa mendapatkan uang saku sekaligus membantu keluarganya.
Pengalaman itu kemudian berlanjut ketika ia beranjak dewasa. Berbagai pekerjaan pernah dijalani, mulai dari mekanik, buruh bangunan, pekerja cargo hingga asisten rumah tangga.
“Saya belajar bahwa tidak ada pekerjaan yang hina. Yang penting kita mau bekerja, mau belajar dan tidak menyerah dengan keadaan,” ujar Gus Adi.
Tahun 2008 menjadi salah satu fase penting dalam perjalanan hidupnya. Gus Adi memutuskan merantau ke Tuban dan bekerja di sebuah perusahaan cargo.

Saat itu, kemampuan bahasa Inggrisnya masih terbatas. Namun, kondisi tersebut tidak membuatnya berhenti belajar. Ia mempelajari bahasa Inggris secara otodidak hingga akhirnya mampu berkomunikasi dengan wisatawan mancanegara.
Dari pekerjaan sebagai asisten rumah tangga, kariernya perlahan berkembang. Ia kemudian dipercaya mengisi posisi staf reservation hingga Operational & Reservation Manager.
Di tengah perjalanan tersebut, Gus Adi juga sempat menekuni fotografi. Ia kemudian aktif dalam organisasi kepemudaan dan berbagai kegiatan sosial.
Lingkungan tersebut membuatnya semakin dekat dengan persoalan yang dihadapi masyarakat.
Dari sana pula muncul kesempatan untuk melanjutkan pendidikan hukum melalui beasiswa.
“Saya tidak datang ke dunia hukum dari keluarga praktisi hukum. Saya datang membawa pengalaman hidup. Pernah menjadi buruh, pernah merasakan sulitnya mencari pekerjaan, dan pernah berada di posisi masyarakat kecil. Itu yang kemudian membuat saya melihat hukum bukan hanya sebagai teori,” katanya.
Setelah menyelesaikan pendidikan hukum, Gus Adi melanjutkan pendidikan profesi advokat hingga akhirnya resmi menjalani profesi tersebut. Ia juga mendalami bidang mediasi dan memperoleh sertifikasi C.BMed.
Perjalanan Gus Adi kemudian mempertemukannya dengan I Wayan Swandi, S.H., yang akrab disapa Andi. Keduanya membangun langkah bersama melalui Andi Law Firm & Partners. Gus Adi dipercaya menempati posisi Direktur.
Bagi Gus Adi, pengalaman melewati berbagai pekerjaan dan kondisi sulit menjadi bekal tersendiri ketika menangani persoalan hukum.
Menurutnya, seorang advokat tidak cukup hanya memahami pasal dan peraturan. Ada persoalan manusia yang harus dipahami di balik setiap perkara.
“Hukum yang sejati tidak hanya lahir dari ruang-ruang kuliah ber-AC, tetapi dari pemahaman mendalam atas rasa sakit, perjuangan dan ketidakadilan yang dirasakan rakyat kecil,” tegasnya.
Kini, Andi Law Firm & Partners menangani berbagai persoalan hukum. Mulai dari perkara perdata dan pidana, sengketa bisnis dan investasi, perkara yang melibatkan warga negara asing, hingga penyelesaian sengketa melalui mediasi.
Meski telah berada di posisi sebagai pimpinan firma hukum, Gus Adi tidak menempatkan masa lalunya sebagai sesuatu yang harus disembunyikan.
Ia masih mengingat masa ketika tangannya harus kotor oleh oli, semen dan pekerjaan kasar lainnya. Begitu pula pengalaman merantau dan menjalani pekerjaan tanpa banyak pilihan.
“Kalau saya melihat perjalanan hidup saya, ternyata setiap pekerjaan dan setiap kesulitan itu ada pelajarannya. Saya tidak ingin menghapus masa lalu. Justru dari situlah saya belajar untuk menghargai perjuangan orang lain,” ujarnya.
Bagi Gus Adi, keterbatasan ekonomi bukan alasan untuk berhenti memiliki cita-cita. Pendidikan, keberanian mengambil kesempatan, serta kemauan untuk terus belajar menjadi bagian penting dalam mengubah arah kehidupannya.
Dari anak desa yang pernah mencari daun ketela, menjadi buruh bangunan dan asisten rumah tangga, ia kini menjalani profesi sebagai advokat dan mediator sekaligus dipercaya memimpin sebuah firma hukum.
Perjalanan tersebut menjadi pengingat bahwa masa lalu yang penuh keterbatasan tidak selalu menentukan sejauh mana seseorang bisa melangkah. Justru dari pengalaman sulit itulah, Gus Adi menemukan alasan untuk memahami perjuangan orang lain dan memilih jalan untuk memperjuangkan keadilan. (dkk)
