


Bangli, Bali Terkini – Jalan Bayung Gede–Batur di Kecamatan Kintamani, Bangli, Bali, yang baru diperbaiki pada 2025, kembali mengalami kerusakan cukup parah. Belum genap setahun, lapisan aspal di sejumlah titik sudah mengelupas, berlubang, hingga membentuk permukaan tidak rata yang membahayakan pengguna jalan.

Berdasarkan pantauan di lapangan, Selasa (18/8/2026), kerusakan mulai tampak dari kawasan perempatan Bayung Gede ke arah utara. Aspal di beberapa titik terlihat terkelupas dan meninggalkan lubang terbuka. Kondisi serupa bahkan hampir merata hingga memasuki wilayah Desa Batur.
Baca Lainnya : Bangli Kembali Kejar Ratusan Miliar Dari Imbal Jasa Lingkungan, Bupati Sedana Arta: Ini Hak Bangli
Kerusakan tersebut tidak hanya mengganggu kenyamanan berkendara, tetapi juga dilaporkan telah menyebabkan sejumlah pengendara terjatuh. Risiko paling tinggi dialami oleh pengguna jalan dari luar daerah yang belum mengenal kondisi ruas jalan tersebut.
Perbekel Bayung Gede, I Wayan Suarjaya, membenarkan kondisi tersebut. Ia menyebutkan bahwa kerusakan sudah mulai terlihat tidak lama setelah proyek perbaikan selesai pada 2025. “Sejak selesai dikerjakan, jalan sudah mulai menunjukkan kerusakan. Sempat dilakukan perbaikan, namun kini kembali mengelupas,” ujar Suarjaya, saat dihubungi awak media di Bangli, Selasa (18/8/2026).
Menurutnya, sejumlah warga maupun pelajar juga pernah menjadi korban akibat kondisi jalan yang rusak tersebut. “Sudah beberapa kali warga dan anak sekolah terjatuh akibat kondisi jalan ini,” tambahnya.
Baca Lainnya : Bangli Membara! Ribuan Warga Nyalakan Obor, Formasi 81 Warnai Malam Kemerdekaan
Ia menegaskan bahwa persoalan ini tidak hanya berkaitan dengan keselamatan pengguna jalan, tetapi juga berdampak pada citra kawasan wisata. Jalur Bayung Gede–Batur merupakan salah satu akses menuju destinasi wisata Kintamani, yang setiap harinya dilalui wisatawan, termasuk dengan adanya loket retribusi di wilayah Desa Batur. “Ini menyangkut citra daerah. Jangan sampai wisatawan datang dan disuguhi kondisi jalan yang tidak layak,” tegasnya.

Terkait penyebab kerusakan, Suarjaya mengaku belum dapat memastikan secara teknis. Meski jalur tersebut cukup padat dan dilalui berbagai jenis kendaraan, termasuk truk, ia tidak dapat menyimpulkan bahwa kerusakan disebabkan oleh kendaraan berat. “Dulu, meski banyak dilalui truk, hasil perbaikan bisa bertahan lebih lama. Namun perbaikan tahun lalu dengan hotmix justru cepat rusak,” jelasnya.
Ia berharap pemerintah dapat segera melakukan perbaikan secara menyeluruh, bukan hanya penanganan sementara pada titik-titik tertentu. Menurutnya, kualitas pekerjaan perlu menjadi perhatian agar kerusakan serupa tidak kembali terjadi dalam waktu singkat. “Perlu perbaikan yang menyeluruh dan berkualitas. Jangan sampai baru diperbaiki sudah kembali rusak. Ini juga menyangkut citra daerah,” pungkasnya. (***)
