160 x 600 AD PLACEMENT
160 x 600 AD PLACEMENT
160 x 600 AD PLACEMENT
160 x 600 AD PLACEMENT
Advertisement

Pemkab Badung Gelar Tawur Agung Kesanga di Catus Pata Puspem, Perkuat Toleransi Nyepi dan Idul Fitri

Deskripsi gambar
Judul atau caption gambar (opsional)

Badung, Bali Terkini – Pemerintah Kabupaten Badung memusatkan pelaksanaan upacara Tawur Agung Kesanga Tahun Saka 1948 di Catus Pata Bundaran Patung Somali, kawasan Pusat Pemerintahan (Puspem) Badung, Rabu (18/3). Upacara penyucian alam semesta ini menjadi momentum krusial bagi penguatan toleransi, mengingat rangkaian Hari Suci Nyepi tahun ini berdekatan dengan perayaan Idul Fitri.

Advertisement

Bupati Badung, I Wayan Adi Arnawa, didampingi Wakil Bupati Bagus Alit Sucipta, memimpin langsung persembahyangan bersama tersebut. Dalam arahannya, Bupati Adi Arnawa menekankan bahwa Tawur Agung Kesanga bukan sekadar ritual rutin, melainkan ruang introspeksi (mulat sarira) untuk menjaga keseimbangan antara manusia dengan alam (Bhuana Agung).

“Momentum Nyepi tahun ini sangat istimewa sekaligus menuntut kedewasaan kita dalam beragama. Karena waktunya beririsan dengan rangkaian Idul Fitri, termasuk malam takbiran, saya mengajak seluruh masyarakat untuk mengedepankan harmoni dan saling menghormati,” ujar Adi Arnawa.

Bupati menghimbau agar umat Muslim dapat melaksanakan takbiran secara khidmat di kediaman masing-masing atau tempat ibadah terdekat, sementara umat Hindu menjalankan Catur Brata Penyepian dengan penuh ketenangan.

“Stabilitas sosial dan kerukunan adalah kunci agar Badung dan Bali tetap aman serta kondusif bagi semua,” tegas Adi Arnawa.

Sebagai simbol pesan spiritual kepada masyarakat, Bupati dan Wakil Bupati melaksanakan tradisi nepak (memukul) kulkul di Bale Kulkul Pura Lingga Bhuwana. Pemukulan kulkul sebanyak sebelas kali tersebut merupakan simbol komunikasi tradisional yang bermakna ajakan kolektif bagi seluruh elemen masyarakat untuk menjalankan esensi Brata Penyepian secara disiplin dan bijaksana.

Sementara itu, Ketua PHDI Kabupaten Badung, I Gede Rudia Adiputra, menjelaskan bahwa rangkaian upacara mulai dari Melasti hingga Tawur Agung bertujuan menyeimbangkan energi alam secara Sekala (lahiriah) dan Niskala (batiniah).

“Catur Brata Penyepian hendaknya tidak dimaknai sebatas seremonial, melainkan menjadi praktik nyata dalam pengendalian diri dan penyucian pikiran. Setelah Nyepi, kita memasuki fase Ngembak Geni sebagai ruang rekonsiliasi sosial untuk saling memaafkan dan memperkuat nilai dharma,” jelasnya.

Advertisement

Acara ini turut dihadiri oleh Ketua TP. PKK Kabupaten Badung Nyonya Rasniathi Adi Arnawa, jajaran Kepala OPD di lingkungan Pemkab Badung, Bendesa Adat, perwakilan MDA, Listibya, serta tokoh masyarakat setempat.

Deskripsi gambar
Judul atau caption gambar (opsional)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Lainnya
930 x 180 AD PLACEMENT