160 x 600 AD PLACEMENT
160 x 600 AD PLACEMENT
160 x 600 AD PLACEMENT
160 x 600 AD PLACEMENT
Advertisement

HIPMI Bali Green Investment Forum 2026 Gaungkan Bali Terbuka untuk Investasi, Bukan Eksploitasi

Deskripsi gambar
Judul atau caption gambar (opsional)

Denpasar, Bali Terkini – Badan Pengurus Daerah Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (BPD HIPMI) Bali menegaskan komitmennya mendorong investasi berkualitas yang mampu menggerakkan ekonomi tanpa mengorbankan lingkungan, budaya, air, dan ruang hidup masyarakat. Pesan tersebut mengemuka dalam HIPMI Bali Green Investment Forum 2026 bertajuk “Kolaborasi Investasi untuk Bali yang Hijau dan Berkelanjutan” di Denpasar, Jumat (4/9/2026).

Advertisement

Ketua Umum BPD HIPMI Bali, Agung Bagus Pratiksa Linggih, menegaskan Bali tetap terbuka bagi investasi. Namun, investasi yang masuk harus memberikan manfaat nyata bagi daerah dan masyarakat lokal.

Baca lainnya Dari Sanggul Jadi Peluang Cuan, Forum Puspa Bangli Bekali Warga Keterampilan Tata Rias

“Bali terbuka untuk investasi, tetapi investasi tersebut harus memberikan nilai tambah, membuka lapangan kerja, memperkuat ekonomi masyarakat lokal, dan tidak menambah beban ekologis Bali,” tegas pria yang akrab disapa Ajus Linggih.

Menurutnya, ukuran keberhasilan investasi di Bali tidak bisa lagi hanya dilihat dari besarnya nilai investasi dan pertumbuhan ekonomi. Dampak terhadap masyarakat dan lingkungan juga harus menjadi indikator utama.

“Harus dilihat berapa banyak masyarakat lokal yang memperoleh manfaat, berapa banyak lapangan kerja yang tercipta, bagaimana dampaknya terhadap lingkungan, serta sejauh mana investasi menghormati budaya dan kearifan lokal Bali,” ujarnya.

HIPMI Bali mendorong investasi yang mampu menciptakan economic value sekaligus social and environmental value.

Baca lainnya Simakrama Forum Alumni KMHDI Bali : Saatnya Kader Ambil Alih Ruang Strategis Bali

Advertisement

Sementara Ketua Bidang 3 BPD HIPMI Bali, I Ketut Sae Tanju, mengatakan konsep investasi hijau harus diterjemahkan dalam standar dan praktik yang terukur. Menurutnya, label green investment tidak boleh berhenti sebagai jargon.

“Investasi hijau harus tunduk pada tata ruang dan daya dukung lingkungan. Air adalah aset strategis Bali, sehingga investasi harus menjaga sumber daya air, mendorong ekonomi sirkular, energi bersih, pengelolaan sampah, serta pariwisata yang berkelanjutan,” kata Sae Tanju.

Forum tersebut menghasilkan 10 Poin Deklarasi HIPMI Bali Green Investment. Deklarasi itu antara lain menegaskan pentingnya investasi yang memberikan nilai tambah, menolak investasi yang mengorbankan lingkungan, melindungi sumber daya air dan tata ruang, serta memperkuat ekonomi lokal.

Baca lainnya Bali Segera Punya Trem, Pemkab Badung Gandeng PT KAI Siapkan Rute Bandara-canggu

Selain itu, budaya dan kearifan lokal Bali didorong menjadi bagian dari model investasi. HIPMI Bali juga mengusulkan Bali Green Investment Catalogue sebagai peta proyek investasi hijau yang dapat menjadi rujukan bagi investor.

HIPMI Bali menilai pengembangan investasi hijau membutuhkan kolaborasi lintas sektor. Pemerintah, dunia usaha, investor, desa adat, masyarakat, akademisi, hingga komunitas lingkungan perlu terlibat agar pertumbuhan investasi berjalan seiring dengan keberlanjutan Bali.

“Kita ingin mengubah paradigma dari ‘investasi masuk’ menjadi ‘investasi yang layak masuk’. Ini yang akan membuat investasi hijau menjadi nyata dan bankable,” tegas Sae Tanju.

HIPMI Bali mendorong investasi yang mampu menciptakan economic value sekaligus social and environmental value. Pesan utama dari forum yang digelar di Rumah Kebangsaan dan Kebhinekaan Denpasar adalah “investasi Tumbuh, Bali Tetap Utuh.”

Deskripsi gambar
Judul atau caption gambar (opsional)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Lainnya
930 x 180 AD PLACEMENT