160 x 600 AD PLACEMENT
160 x 600 AD PLACEMENT
160 x 600 AD PLACEMENT
160 x 600 AD PLACEMENT
Advertisement

Wasiat Terakhir Sang Pandita, Pelebon Sulinggih Perdana di Krematorium Tyaga Margananda

Deskripsi gambar
Judul atau caption gambar (opsional)

Karangasem, Bali Terkini- Pesan terakhir Ida Pandita Mpu Acharya Nanda akhirnya diwujudkan keluarga. Sulinggih dari Griya Widya Giri Kusuma, Sidembunut, Desa Cempaga, Kabupaten Bangli, itu sejak semasa hidup telah berwasiat agar prosesi pelebonnya dilaksanakan melalui kremasi di Graha Yadnya Krematorium Tyaga Margananda, Ujung Mantri, Karangasem.

Advertisement

Wasiat tersebut dilaksanakan pada Kamis (30/7/2026) saat rangkaian puncak upacara Bumi Suda digelar. Keputusan itu sekaligus mencatat sejarah baru karena menjadi pelebon pertama seorang sulinggih yang dilaksanakan di Krematorium Tyaga Margananda sejak fasilitas tersebut diresmikan pada September 2025.

Jenazah diberangkatkan dari Bangli menuju Karangasem menggunakan ambulans. Setibanya di krematorium, prosesi diawali dengan persembahyangan di Padma, dilanjutkan Purwasaya, kemudian jenazah ditempatkan di petulangan lembu sebelum memasuki proses kremasi. Setelah Bumi Suda selesai, upacara diteruskan dengan pengiriman, nganyut di Segara Ujung Mantri, pengedetan hingga penyekahan.

Sang Nabe Napak, Ida Pandita Mpu Jaya Sattwika Nanda  mengungkapkan, pilihan menggunakan krematorium bukan keputusan mendadak. Keinginan tersebut telah lama disampaikan almarhum kepada keluarga.

“Beliau memang menghendaki kremasi. Karena itu keluarga menghormati sepenuhnya keinginan beliau,” ujarnya.

Menurutnya, keluarga sebenarnya telah menyiapkan tegal suci apabila pelebon dilakukan secara konvensional. Namun, karena merupakan amanat langsung almarhum, seluruh keluarga sepakat menjalankan wasiat tersebut.

Ia juga menegaskan keberadaan krematorium bukan untuk menggantikan tradisi ngaben yang selama ini dijalankan masyarakat Bali. Fasilitas itu hanya menjadi alternatif bagi umat yang memiliki keterbatasan lahan, waktu maupun kondisi tertentu, sementara seluruh tahapan upacara tetap mengikuti sastra agama Hindu.

Putra almarhum, I Komang Pujawan, mengatakan keluarga hanya berupaya memenuhi pesan terakhir sang ayah. Selain merupakan wasiat, pada saat bersamaan di Desa Sidembunut juga tengah berlangsung rangkaian upacara adat sehingga pelaksanaan kremasi dinilai menjadi pilihan yang paling memungkinkan.

Advertisement

“Ini memang permintaan Ida Sulinggih semasa hidup. Kami hanya menjalankan pesan beliau. Kebetulan di desa juga sedang ada upacara adat, sehingga kremasi menjadi pilihan yang lebih sederhana tanpa mengurangi makna yadnya,” katanya.

Sementara itu, Pengelola Graha Yadnya Krematorium Tyaga Margananda, I Wayan Pasek Yasa, mengaku mendapat pemberitahuan hanya beberapa hari sebelum prosesi dilaksanakan. Meski waktu persiapan relatif singkat, seluruh kebutuhan upacara berhasil disiapkan sesuai ketentuan.

Menurutnya, menjadi tempat pelebon seorang sulinggih merupakan kehormatan tersendiri bagi pengelola krematorium yang belum genap satu tahun beroperasi.

“Kami merasa bangga karena belum genap setahun beroperasi, krematorium ini sudah dipercaya menjadi tempat pelaksanaan Plebon Ida Pandita Mpu Acharya Nanda,” ujarnya.

Pasek Yasa menambahkan, masyarakat Karangasem mulai memanfaatkan keberadaan krematorium sebagai salah satu pilihan dalam pelaksanaan yadnya. Warga dari sejumlah kecamatan seperti Karangasem, Abang, Bebandem hingga Kubu telah menggunakan fasilitas tersebut. Seluruh perlengkapan upacara, termasuk banten yang dipergunakan, tetap mengikuti tata cara sebagaimana prosesi ngaben pada umumnya sehingga nilai kesakralan yadnya tetap terjaga.

Rangkaian karya pelebon Ida Pandita Mpu Acharya Nanda telah dimulai sejak 26 Juli 2026 melalui berbagai tahapan upacara. Setelah prosesi Bumi Suda, keluarga masih akan melaksanakan nganyut dan Atma Wedana di Segara Ujung Mantri, kemudian mecaru, mekelud, melukat, hingga rangkaian penutup berupa nebusin dan nyegara gunung di Gua Lawah yang dijadwalkan berlangsung pada Minggu (2/8/2026).

Semasa hidup, Ida Pandita Mpu Acharya Nanda dikenal sebagai sosok pendidik sebelum menjadi sulinggih. Ia pernah mengabdi sebagai kepala sekolah dan dosen di Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa. Pelaksanaan wasiat terakhirnya melalui pelebon di Krematorium Tyaga Margananda menjadi penutup perjalanan hidup yang dijalani sesuai kehendaknya sendiri. (dkk)

 

Deskripsi gambar
Judul atau caption gambar (opsional)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Lainnya
930 x 180 AD PLACEMENT