


Singaraja, Bali Terkini – Sekitar 15 persen potensi produksi pertanian di Kabupaten Buleleng hingga kini belum tergarap optimal. Salah satu penyebab utamanya adalah kerusakan jaringan irigasi serta keterbatasan tenaga kerja di sektor pertanian.

Kondisi ini direspons Pemerintah Kabupaten Buleleng dengan mulai memperbaiki infrastruktur pengairan dan mendorong mekanisasi pertanian. Pada Jumat (17/4/2026), Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra menyerahkan bantuan 5 unit traktor roda dua serta program rehabilitasi 10 jaringan irigasi tersier dengan total anggaran Rp1 miliar.
Kepala Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan Buleleng, Gede Melandrat, mengungkapkan bahwa kendala irigasi dan tenaga kerja selama ini menjadi faktor utama belum optimalnya produksi.
“Sekitar 15 persen potensi peningkatan produksi belum tercapai akibat keterbatasan tenaga kerja dan kerusakan saluran irigasi,” ujarnya.
Baca juga: Perkuat Ketahanan Pangan, Bupati Klungkung Hadiri Rapat Strategis Pembahasan LP2B di Jakarta

Ia menjelaskan, perbaikan irigasi dilakukan melalui 10 paket pekerjaan senilai masing-masing Rp100 juta. Pengerjaan dilakukan secara padat karya oleh kelompok tani atau subak, sehingga diharapkan tidak hanya memperbaiki saluran air, tetapi juga membantu ekonomi petani.
Bupati Sutjidra menambahkan, persoalan distribusi air memang menjadi salah satu titik lemah sektor pertanian di Buleleng. Karena itu, pada tahun ini pemerintah menargetkan rehabilitasi sekitar 40 saluran irigasi.
“Kalau kebutuhan air terpenuhi, produksi di masing-masing subak bisa meningkat,” katanya.
Selain infrastruktur, pemerintah juga berupaya menekan alih fungsi lahan dengan memberikan insentif pajak hingga 90 persen bagi lahan yang masuk dalam Kawasan Pertanian Pangan Berkelanjutan (KP2B).
Baca juga: Pengembang Caplok Lahan Produktif, Kelihan Subak Resah
Di sisi lain, petani mengakui bantuan alat dan perbaikan irigasi memang sangat dibutuhkan. Namun, mereka berharap program tidak berhenti pada bantuan awal saja.
“Bukan hanya alat, tapi juga irigasi, bibit, pupuk, semua itu penting untuk menjaga produksi tetap jalan,” ujar Made Arina, petani dari Subak Anyar Patemon.
Ia menambahkan, masih ada sejumlah saluran irigasi yang rusak dan membutuhkan penanganan lanjutan agar distribusi air ke lahan pertanian bisa lebih merata.
