


Bangli, Bali Terkini – Ada cara unik dan bermakna yang dilakukan warga Desa Adat Sala, Kecamatan Susut, Bangli, dalam menyemarakkan Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Memadukan semangat kebangsaan dengan nilai-nilai tradisi, desa adat Sala menggelar kegiatan bertajuk Campuhan Yatra. Yakni, sebuah terobosan wisata spiritual berbasis lintas alam (trekking) yang diproyeksikan menjadi magnet wisata baru di Bangli.

Kegiatan jalan santai lintas alam sepanjang 1,5 jam ini, dilepas langsung oleh Bupati Bangli, Sang Nyoman Sedana Arta, Minggu (16 Agustus 2026). Dalam jalan santai ini, peserta diajak menelusuri keasrian alam pedesaan, hamparan persawahan, hingga situs pertapaan, sebelum akhirnya finish di Pura Taman Pecampuan—destinasi penglukatan (penyucian diri) yang selama ini telah tersohor di kalangan wisatawan.
Baca Lainnya : 60 Paskibraka Bangli Resmi Dikukuhkan, Siap Kibarkan Sang Merah Putih
Camat Susut, I Dewa Putu Apriyanta, memberikan apresiasi tinggi atas inisiatif Desa Adat Sala yang mampu mengemas peringatan kemerdekaan menjadi ajang promosi potensi daerah yang bernilai tinggi.
”Campuhan Yatra ini kegiatan yang sangat luar biasa. Selain objek penglukatan yang sudah dikenal, rute trekking menelusuri persawahan dan alam ini akan semakin menambah daya tarik. Ke depan, ini menjadi potensi baru untuk meningkatkan kunjungan wisatawan ke Desa Adat Sala,” ungkap I Dewa Putu Apriyanta.
Ia menambahkan, spirit kemerdekaan hendaknya menjadi momentum bagi masyarakat, khususnya generasi muda, untuk terus meningkatkan keterampilan, penguasaan teknologi, dan bijak bermedia sosial demi menyongsong Indonesia Emas 2045.
Baca Lainnya : Dilepas Bupati Sedana Arta, 35 Regu SD Se-Kecamatan Bangli Adu Disiplin Dan Kekompakan
Sementara itu, Bendesa Adat Sala, I Wayan Subagia, menjelaskan bahwa Campuhan Yatra secara harfiah bermakna perjalanan suci menuju tempat pertemuan aliran sungai (campuhan). “Konsep ini lahir dari tingginya aspirasi wisatawan yang menginginkan pengalaman trekking di sekitar kawasan penyucian diri tersebut,” ungkapnya.
Mengusung tema “Merawat Budaya, Menjaga Harmoni, Merayakan Indonesia”, pihak desa adat berkomitmen menjadikan kegiatan ini sebagai program berkelanjutan, bukan sekadar agenda seremonial tahunan.
”Kami mencoba mengemasnya dalam bentuk jalan santai lintas alam untuk ditawarkan kepada para tamu. Harapan kami, kegiatan ini tidak berhenti di momen 17 Agustus saja, tetapi terus berlanjut. Kami juga memohon dukungan dari pemerintah daerah agar potensi wisata yang kami miliki ini bisa terus berkembang,” jelas I Wayan Subagia.

Selain Campuhan Yatra, kemeriahan HUT ke-81 RI di Desa Adat Sala juga diisi dengan berbagai lomba kemasyarakatan yang melibatkan seluruh lapisan warga, mulai dari anak-anak, ibu-ibu, hingga kelompok pemuda. Kemeriahan ini ditujukan untuk memupuk kebersamaan sekaligus memperkuat rasa cinta terhadap NKRI. (***)
