160 x 600 AD PLACEMENT
160 x 600 AD PLACEMENT
160 x 600 AD PLACEMENT
160 x 600 AD PLACEMENT
Advertisement

Merayakan Saraswati, Menghidupkan Ilmu

Deskripsi gambar
Judul atau caption gambar (opsional)

Bali Terkini- Hari Hari Saraswati sering kali hadir dalam suasana yang khusyuk, lontar dan buku ditata rapi, dihaturkan canang, dan doa dipanjatkan dengan penuh hormat.

Advertisement

Namun, makna sejatinya tidak berhenti pada ritual. Saraswati adalah hari untuk merenungi bahwa ilmu pengetahuan bukan tidak hanya untuk disimpan, juga dihidupi.

Dalam filosofi Hindu, Saraswati melambangkan widya, pengetahuan yang membebaskan.

Artinya, ilmu tidak hanya membuat seseorang pintar, tetapi juga bijaksana dalam bertindak. Di sinilah letak pergeseran penting, dari sekadar “menghormati buku” menjadi “mengamalkan isi buku”.

Di tengah derasnya arus informasi hari ini, memaknai Saraswati menjadi semakin relevan. Kita hidup di zaman di mana pengetahuan begitu mudah diakses, tetapi kebijaksanaan justru sering tertinggal.

Banyak yang tahu, tapi belum tentu paham. Banyak yang membaca, tapi belum tentu menghayati.

Saraswati seharusnya menjadi momentum untuk bertanya,

Apakah ilmu yang kita miliki sudah memberi manfaat?

Advertisement

 Apakah pengetahuan itu membuat kita lebih rendah hati?

 Atau justru menjadi alat untuk merasa paling benar?

Ilmu yang sejati tidak membuat seseorang angkuh, melainkan semakin sadar akan keterbatasannya. Ia menuntun pada sikap eling dan waspada, serta mendorong untuk terus belajar tanpa henti.

Lebih jauh, Saraswati juga mengajarkan tanggung jawab moral. Pengetahuan bukan sesuatu yang netral, ia bisa digunakan untuk kebaikan, tetapi juga bisa disalahgunakan.

Maka, kebijaksanaan menjadi penyeimbang. Ilmu tanpa etika hanya akan melahirkan kerusakan, sementara ilmu yang dibarengi nilai akan menciptakan peradaban.

Di Bali, tradisi menempatkan buku dan lontar sebagai sesuatu yang disakralkan sebenarnya menyimpan pesan sederhana, hormati sumber pengetahuan.

Namun, penghormatan itu tidak cukup jika berhenti pada simbol. Ia harus diterjemahkan dalam tindakan belajar dengan sungguh-sungguh, berpikir kritis, dan menggunakan ilmu untuk kebaikan bersama.

Akhirnya, Hari Saraswati tidak hanya tentang persembahyangan, juga tentang perjalanan batin.

Tentang bagaimana kita memaknai ilmu sebagai jalan menuju kebijaksanaan, bukan alat untuk mencapai kepentingan pribadi.

Karena pada akhirnya, ukuran sejati dari ilmu bukan pada seberapa banyak yang kita tahu, tetapi pada seberapa bijak kita menjalani hidup. (dkk)

Deskripsi gambar
Judul atau caption gambar (opsional)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Lainnya
930 x 180 AD PLACEMENT