


Bangli, Bali Terkini – Bullying di sekolah tak boleh dianggap kenakalan biasa. Perundungan, baik secara fisik, verbal, sosial maupun digital, bisa mengganggu rasa aman dan tumbuh kembang anak. Melihat ancaman tersebut, Forum Puspa Kabupaten Bangli turun langsung menggencarkan pencegahan. Ketua Forum Puspa Bangli, Ny. Suciati Diar, membuka Sosialisasi Pencegahan Bullying pada Satuan Pendidikan Tahun 2026 di SMPN 3 Bangli, Kamis (24/9/2026).

Di hadapan para siswa, Suciati menegaskan pentingnya membangun budaya saling menghormati. Siswa juga diminta tidak tinggal diam ketika melihat temannya menjadi korban. “Jangan takut untuk berbicara. Jika melihat teman menjadi korban, jangan ditertawakan atau dibiarkan. Jadilah teman yang peduli dan siap membantu mencari pertolongan,” tegasnya.
Menurut Suciati, perang melawan bullying tidak cukup hanya mengandalkan sekolah. Guru, keluarga dan masyarakat harus bergerak bersama. Lima benteng yang ditekankan yakni budaya saling menghormati, keberanian melapor, penguatan peran guru, keterlibatan keluarga serta bijak bermedia sosial.
Baca Lainnya : Monev KIP 2026, Bangli Bidik PPID Terintegrasi dan Berbasis Digital
Kepala SMPN 3 Bangli, A.A. Ari Kurniawan, mengatakan sekolah telah menerapkan prinsip Sekolah Ramah Anak. Salah satu langkah pencegahan ialah menyediakan kotak curhat sebagai ruang siswa menyampaikan persoalan secara aman. Sekolah juga mengembangkan 12 organisasi kesiswaan untuk menyalurkan minat dan bakat siswa.
Sosialisasi tersebut turut diisi Kepala Dinas Sosial P3A Bangli, I Wayan Jimat. Materi menyoroti berbagai bentuk bullying serta dampaknya, sekaligus mendorong siswa membangun pertemanan sehat, percaya diri dan berani melapor. (***)
Pesannya tegas: bullying jangan ditutupi, korban jangan didiamkan, dan pelaku jangan dibiarkan.

