


Badung, Bali Terkini – Pameran industri makanan dan minuman, Bali Interfood 2026, kembali digelar di Bali Nusa Dua Convention Center (BNDCC), Nusa Dua, Badung, 2-4 September 2026. Pameran ini juga menjadi panggung seleksi internasional Gelato World Cup untuk kawasan Asia-Pasifik.

CEO Krista Exhibitions Daud D. Salim mengatakan, penyelenggaraan Bali Interfood tahun ini memasuki edisi ke-7. Jumlah peserta mencapai sekitar 110 hingga 115 perusahaan, termasuk 35 Industri Kecil dan Menengah (IKM) dari Jawa Timur dan sejumlah daerah di Indonesia.
Baca lainnya Mengintip Kuliner Mewah di Atas Sungai Berbisik di Ubud Bali
“Bali ini tempat yang memang turis dalam negeri maupun luar negeri ingin datang. Tahun ini jumlah peserta mirip dengan tahun lalu, sekitar 110 sampai 115 peserta,” ujar Daud dalam konferensi pers di NEXX Cafe Bali, Denpasar, Senin (31/8).
Ia mengatakan, Krista Exhibitions bersama PHRI berencana memperluas keterlibatan IKM Bali pada penyelenggaraan tahun depan. Sekitar 20-30 IKM terbaik dari Bali akan difasilitasi untuk menampilkan produk mereka di Bali Interfood 2027.
Salah satu agenda utama tahun ini adalah Indonesian Selection for Gelato World Cup yang berlangsung selama tiga hari, 2-4 September 2026. Pemenangnya akan mewakili Indonesia dalam kompetisi internasional di Banten pada November 2026.
Baca lainnya BRI Nusa Dua Eco Market 2026 Hadirkan Kolaborasi UMKM, Budaya, dan Gaya Hidup Berkelanjutan
Daud juga menyebut Indonesia kini berhasil menjadi pusat seleksi Gelato World Cup untuk kawasan Asia-Pasifik. Peserta dari sejumlah negara, seperti China, Taiwan, Hong Kong, Korea Selatan, Filipina, Vietnam, Singapura, Thailand hingga Australia, akan mengikuti tahapan seleksi melalui Indonesia sebelum menuju kompetisi dunia di Italia.

“Yang menarik, kita berhasil membuat Indonesia sebagai pusat seleksi Asia. Semua harus melalui Indonesia, pemenangnya baru mengikuti lomba dunia di Italia,” tandasnya.
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bali, Tjokorda Artha Ardana Sukawati, mendorong penguatan kapasitas dan daya saing Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), khususnya yang bergerak di sektor kuliner.
Menurutnya, penguatan UMKM tidak hanya penting untuk memperkokoh sektor usaha lokal, tetapi juga menjadi bagian dari upaya meningkatkan daya saing industri pariwisata dan ekonomi kreatif Indonesia.
Baca lainnya Jaring Pengunjung Domestik, Kenalkan pada Wisatawan Asing Bali Collection Siapkan Blok Baru Khusus Lokal Indonesia
Pria yang akrab disapa Tjok Ache ini mengatakan, kuliner kini tidak lagi sekadar menjadi kebutuhan dasar wisatawan. Kuliner telah berkembang menjadi bagian penting dari pengalaman wisata karena mampu memperkenalkan cita rasa, budaya, serta kearifan lokal suatu daerah.
“Kuliner bukan sekadar untuk mengenyangkan perut atau menghilangkan haus. Kuliner sudah menjadi bagian dari pengalaman autentik wisatawan untuk mengenal cita rasa dan budaya suatu daerah,” ujarnya.
Mantan Wakil Gubernur Bali ini juga menilai Bali memiliki peluang besar untuk mengembangkan berbagai potensi wisata baru yang dapat dikolaborasikan dengan kekuatan produk lokal dan tren wisatawan.
“Ini merupakan potensi yang luar biasa. apalagi jika dikembangkan sebagai kawasan wisata astronomi, saya kira mempunyai nilai jual yang luar biasa. potensi kita dan tren pariwisata ini bisa menjadi kekuatan bali ke depan,” ujarnya.
Ia menegaskan PHRI Bali akan terus mendukung penguatan sektor hospitality beserta sektor-sektor pendukungnya, termasuk UMKM kuliner, agar pariwisata Bali semakin berdaya saing dan memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat.
