


Badung, Bali Terkini – Sebagai salah satu resor bintang lima eco-luxury paling terkenal di Ubud, yang diakui oleh TIME Magazine, Bambu Indah menegaskan kembali komitmennya terhadap keberlanjutan dan pelestarian lingkungan. Bekerja sama dengan Owl Tower Bali Foundation, Bambu Indah menyelenggarakan pelepasan delapan ekor burung hantu jenis Tyto alba di persawahan kawasan Desa Bongkasa, Badung.

Upaya ini dilakukan untuk menghadirkan solusi alami dan berkelanjutan guna mengendalikan populasi tikus di sawah setempat, mengurangi ketergantungan pada pestisida kimia sekaligus mendukung keseimbangan ekologi wilayah tersebut.
Acara ini dihadiri oleh pemilik Bambu Indah, John Hardy dan Cynthia Hardy, beserta putra mereka Orin Hardy, serta Direktur Bambu Indah, Ratheesh Raj. Pejabat lokal yang hadir antara lain Camat Abiansemal Ida Bagus Putu Mas Arimbawa S.Sos, Perbekel Bongkasa I Gusti Agung Sumajaya, Bendesa Bongkasa Ida Bagus Gede Sujia Pradanta, dan Pekaseh Sengempel Bongkasa I Wayan Suambara, bersama perwakilan Subak dan Kepala Owl Tower Bali, Astungkara Way serta perwakilan dan mahasiswa dari Universitas Udayana.
Pemilik Bambu Indah, John Hardy menyebut burung hantu merupakan predator alami tikus yang sangat efektif dalam mengendalikan populasi tanpa menggunakan bahan kimia berbahaya, melindungi sawah sekaligus menjaga kualitas tanah dan ekosistem sekitarnya.
“Racun tikus sering kali justru merusak lingkungan, bukan hanya menarget hama tetapi juga organisme lain. Dengan menghadirkan kembali predator alami, kita bekerja bersama alam, bukan melawannya,” ujar John Hardy.
Hal senada juga disampaikan oleh Orin Hardy, bahwa program pelepasan burung hantu ini bukan sekadar solusi teknis, tetapi bagian dari upaya besar menjaga keberlanjutan ekologi dan budaya Bali. Orin juga menyoroti pentingnya cara pandang terhadap sawah di Bali. Menurutnya, sawah bukan hanya pemandangan indah bagi wisatawan, melainkan bagian dari sistem ekologi dan ekspresi adat yang telah dijaga turun-temurun.
“Sawah di Bali lebih dari sekadar pemandangan indah, mereka adalah ekosistem hidup dan ekspresi budaya yang dijaga melalui sistem Subak selama generasi. Sebagai bagian dari industri pariwisata, kami memiliki tanggung jawab untuk melindungi keunikan Bali,” jelasnya.
Inisiatif ini awalnya mencakup sekitar 40 hektare sawah yang dalam beberapa tahun terakhir mengalami kerugian panen akibat serangan tikus.

Keberhasilan program ini bergantung pada kolaborasi dengan komunitas lokal, organisasi lingkungan, dan generasi pemimpin berikutnya. Mahasiswa dari Udayana University menyaksikan pelepasan untuk memahami bagaimana praktik berkelanjutan dapat melindungi panen sekaligus keanekaragaman hayati. Masyarakat diimbau untuk menjaga burung hantu dan habitatnya, meminimalkan gangguan, dan menghindari praktik yang dapat mengancam kelangsungan hidupnya.
Melalui inisiatif seperti pelepasan burung hantu ini, Bambu Indah menunjukkan bagaimana perhotelan berbintang lima yang diakui secara internasional dapat mendukung pelestarian lingkungan, pemberdayaan masyarakat, dan perlindungan jangka panjang lanskap alam dan budaya Bali. Acara ini ditutup dengan pengalaman makan bersama megibung, melambangkan persatuan dan tanggung jawab bersama bagi semua peserta.
