Mengabdi Sebagai Pengayah Tapakan (Part 2-Habis)

baliterkini.com

Ungasan, Baliterkini.com - Ironis memang, apa yang ada di areal sekolah ini berbanding terbalik. Sekolah PAUD TK, dimana anak belajar mengenal diri dan menemukan tempat bermain disisi lain ada perwujudan Tapakan yang tidak akan dimengerti oleh anak- anak. Tempat suci inilah sebagai media untuk menekuni bidang spiritual secara kebetulan. Menjadi guru sekaligus kepala TK, untuk menjalani ini tidaklah mudah.

“ Tugas ibu banyak, bukan saja di guru, di PKK, dan di desa juga aktif. Ibu juga menjalani spiritual atau Dasaran yang sekarang punya Paiketan di Tabanan berjumlah 50 Dasaran, “ ucap ibu yang pernah mengenyam sarjana di Universitas Terbuka, Denpasar tahun 2013.

Aktifitas mengajar sama sekali tidak terusik, sekolah dan juga tempat berbagai tapakan Ida Bhatara memang adanya terpisah, tepatnya dibelakang. Sekolah TK baginya memiliki tiga fungsi, sebagai proses mengajar, sebagai tempat Nunas Baos, sekaligus tempat tinggal.

“ Untuk mengatur ini semua semampunya saja, cuman tetap saya menomor satukan spiritual, pernah terbukti ketika mengabaikan spiritual, “ ungkapnya.

Saban hari, sebelum mulai kegiatan sekolah dirinya sellau mengahturkan persembahyangan di kamar suci yang diawali pukul 5 pagi. Hal ini selalu dilakukannya karena penting bagi kelangsungan sekolah dan anak didiknya. Pernah ketika itu, banyak anak didik mengalami celaka di sekolah, banyak murid yang tak betah, antar guru terjadi Gap. Bercermin dari sana, disadari bahwa akibat dari mengabaikan spirtual yang seharusnya dia nomor satukan. Karena sudah terbiasa mengatur aktifitas, semua berjalan seperti layaknya sekolah TK.

“ Pokoknya yang dikamar suci itu nomor satu, banyak pengalaman terjadi akibat menomor duakan, ini bukan muluk- muluk “, katanya

Atas kondisi ini, di lingkungan sekolah para orang tua murid telah menyadari. Keadaan kepala sekolah yang juga sibuk akan kegiatan spiritual. Selagi dirinya masih berada di lingkungan sekolah, pintu tetap terbuka bagi siapa saja yang butuh dirinya, terkecuali jika ada kegiatan Paiketan di Tabanan bersama dengan Dasaran.

Ia menambahkan, sampai dirinya bisa menekuni kegiatan spiritual dengan Nyungsung berbagai Tapakan dan Lawatan dari Pura Dalem Ped sedikitpun tidak terbesit untuk itu. Hal ini muncul dari gejala Kerauhan yang dialami oleh almarhum suami keduanya yang mengisyaratkan akan hal ini.

“ Awalnya saya tampil apa adanya, tidak ada pikiran kesitu, awalnya almarhum suami Kepingit jadi Mangku. Sampai disini istilahnya kesurupan, atau kerauhan yang dari Dalem Ped.  Awalnya saya tidak percaya dengan hal seperti itu, “ tambahnya.

Di dalam kamar suci ini, terdapat Tapakan Ratu Niang, banyak minta petunjuk kepada-Nya, Ida Dalem Ped, Ida Sapu Jagad, Ratu Ayu Mas Meketel, Ibunda Dewi Kuan In, Kanjeng Ratu Pantai Selatan, Pemucuk Ida di Uluwatu. Semua yang ada disini diwujudkan dalam bentuk Topeng, dan Arca, bahkan pula dalam bentuk Daksina yang mewakili perwujudan Lanang – Wadon.

Bukan rahasia lagi, kondisi ini disadari betul oleh masyarakat, dan siswa murid atau pun guru dari umat lain. Namun atas kondisi ini pula berbagai cobaan pernah dia alami, baik itu secara nyata maupun tidak nyata, begitu pula cemooh dari orang lain. Melihat kenyataan ini, dia hanya bisa bersabar dan ketulu menjalani semua tanpa beban dalam melakukan kewajiban.

“ Walaupun hidup  penuh cobaan sendiri. Ibu tetap berserah kepada-Nya. Selain itu hiburan ada di anak-anak sini, “ pungkasnya. [BT]

Komentar