Kurma Asih, Kelompok Pelestari Penyu di Perancak

baliterkini.com

Jembrana, Baliterkini.com - Bali dulu dikenal sebagai tempat pembantaian penyu terbesar di Indonesia. Sekitar tahun 80-an aktifitas ini marak ditemui disepanjang pantai Perancak. Banyak bermunculan kelompok pembantai penyu dan pencari telor yang diperuntukan sebagai konsumsi dan pelengkap upacara keagamaan di Bali.

Salah satu anggota kelompok pembantai penyu itu kini menjadi bagian dari pelestari penyu, dia telah tobat dan memilih untuk menyayangi penyu yang dulunya banyak dibantai. Kesadaran ini muncul setelah merasakan pergolakan batin atas segala dosa yang dilakukannya sepanjang aktifitas perburuan. Banyak penyu sudah dibunuhnya, tak ada ampun, baik itu dalam keadaan bertelor ataupun sedang kawin.

Sebuah tombak, menjadi senjata pamungkas sebagai perlengkapan berburu. Tak ada belas kasihan, yang ada hanyalah usaha berburu untuk digunakan makan dan dijual agar mandapatkan uang. Penyu, tak ubahnya seperti manusia, adakalanya dia bisa menitikan air mata disaat disakiti atau ketika dibunuh. Pemandangan ini seakan biasa ditemui bagi pelaku pemburu penyu saat itu. 

Sadar

Ketika perburuan dirasa berkurang tahun 1985, munculah kesadaran untuk mengantisipasi kepunahan. Serta merta dalam benaknya muncul niat untuk melakukan penebusan dosa melalui cara menjaga kembali keberadaan penyu ke habitatnya di muka bumi lewat jalan konservasi. 

Pengalaman itu, kembali diceritakan oleh I Wayan Tirtha, 70 tahun, dulunya ia punya peran penting dalam Seka ( anggota ) kelompok pencari penyu yang secara terbuka dilakukan. Dia hafal betul seluk beluk penyu berada, sehingga bisa dikatakan ia dikenal saat itu dari kelompok pembantai penyu handal di kawasan pantai Perancak.

Kini, keadaan jauh berbeda, ketika matahari pagi baru mulai menghangatkan bumi, ia berjalan di atas pasir hitam sembari menggotong ember berisi ratusan tukik (anak penyu). Suatu pagi ia bersama 3 orang rekannya hendak melepas ratusan tukik berjenis Penyu Lekang ke habitatnya di laut lepas Banjar Mekarsari, Desa Perancak, Kecamatan Jembrana.

Satu per satu hewan yang kini dilindungi oleh negara tersebut kemudian merayap dan berenang bebas menyentuh air laut. Kakek berambut panjang dan berkumis putih tersebut mengatakan kegiatan pelepasan tukik ini memang rutin dilakukan oleh Kelompok Pelestari Penyu (KPP) Kurma Asih.

Terlebih kegiatan ini dilakukan memasuki bulan September yang merupakan bulan terakhir dari musim bertelur penyu. "Penyu itu seperti manusia. Mungkin dia merasa aman bertelur di sini. Ayo kita sama-sama bertelur di Perancak, mungkin begitu dia berkata kepada teman-temannya," ujar Tirtha.

Lahirnya Kurma Asih

KPP Kurma Asih sebenarnya sudah terbentuk semenjak tahun 1997 silam dan digagas oleh Tirtha bersama rekan-rekannya. Tirtha mengungkapkan KPP Kurma Asih yang sekarang ini benar-benar dibentuk dari nol berdasarkan swadaya anggota kelompoknya sendiri tumbuh menjadi kelompok yang banyak mendapatkan perhatian dari berbagai pihak.

Tirtha dalam perjalanannya melestarikan penyu, KPP Kurma Asih sempat menerima bantuan dari beberapa pihak. Bantuan-bantuan tersebut berasal dari donasi pihak-pihak ketiga, dari Pemerintah Daerah (Pemda) Bali, serta Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jembrana. Bahkan kelompok ini juga pernah menerima bantuan dari WWF (World Wildlife Fund).

"Tiga tahun setelah berdiri secara swadaya, KPP ini pernah diberi bantuan oleh WWF," ucapnya bersama I Wayan Anom Astikajaya, selaku Ketua Kelompok Pelestari Penyu Kurma Asih. 

Dalam sebuah catatan berupa tabel penetasan telur penyu semi alami, dari tahun 1997 hingga 2013 jumlah telor yang sudah menetas sebanyak 190.184 butir dan jumlah tukik yang dilepas sudah sebanyak 182.766 ekor.

Selaku bagian dari pelestari penyu, banyak tantangan dihadapi, bahkan jumlah anggota yang awalnya berjumlah 35 orang berasal masyarakat setempat lama kelamaan menjadi mundur dan kini berjumlah 15 orang. Tirtha memandang, sebagian anggota mengganggap aktifitas ini tidak menguntungkan secara personal.

Berbagai upaya telah dilakukan dalam upaya untuk menarik minat masyarakat untuk mengantarkan telor penyu yang ditemui oleh masyarakat agar dibawa ke lokasi tempat pelestarian penyu di Perancak.

" Ketika masyarakat mendapatkan telor dari penyu dan diantarkan langsung kesini, kita tidak membelinya, karena undang-undang mengamanatkan. Kita hanya memberi bentuk penghargaan dalam melakukan sesuatu, bukan membeli atau jual beli, sekaligus mencegah perdagangan telor di pasar" terang Tirtha.

Dirinya berharap, bila ada lembaga atau perorangan untuk menjadi bagian dari adoptor tukik bisa dilakukan sejak proses peretasan. Program adoptor yang dimulai sejak tahun 2001 syaratnya cukup mudah dengan cukup berkomunikasi langsung kepada pihak pelestari penyu Kurma Asih yang ada di Perancak. Selama ini terdapat 214 sarang, sementara yang telah diadopsi baru hanya 20 sarang.

Selama terjalin komunikasi pihak adoptor bisa mengikuti perkembangan sampai waktu pelepasan dan mendapatkan sebuah sertifikat sebagai bentuk apresiasi atas keterlibatan langsung dalam upaya pelestarian penyu. [BT]

Komentar