Edy Monte, Geluti Kerajinan Topi Warbonnet

baliterkini.com

Tuban, Baliterkini.com - Dibalik riuh pesawat terbang, desing mesin seakan memecah telinga tidak jauh dari pagar Bandara I Gusti Ngurah Rai, Tuban, Bali. Siapa sangka di ujung timur landasan, tepatnya sisi selatan, sebuah usaha kecil tumbuh berbaur dengan kawasan pemukiman penduduk. Mereka para pekerja merangkai topi indian ( Warbonnet ) yang pemasarannya di ekspor. Sosok pengembang kerajinan ini adalah Edy Sutrisno atrau akrab disapa Edy Monte.

Edi Sutrisno, siang itu nampak serius merangkai bagian topi yang berbahan bulu ungas. Panas dan bising seolah sudah menjadi bagiannya bekerja di ruang lantai dasar. Di bangunan lantai dua paling ujung Jalan Melasti, Kelan, Tuban, mereka bekerja bersama 9 pekerja lainnya menciptakan aneka motif topi indian. Bangunan pos keamanan lingkungan yang tepat di depan bangunan dimanfaatkannya sekaligus ruang kerja oleh anak buahnya.

Topi indian ini berbahan bulu ungas menjadi bahan baku penting selain monte sebagai hiasannya. Dalam satu rangkaian topi indian ini terdiri dari beberapa bahan, antaranya, woll sintetis, bulu ungas, kertas tebal, bando, dan benang.

Edi Sutrisno, pria asal Banyuwangi ini sudah 5 tahun bekerja membuat kerajinan topi. Dia sekaligus sebagai pengembang atau peran utama, melanjutkan  kerajinan topi Indian ini sampai tembus ke luar negeri. Di sekitar tempatnya bekerja bukan saja dibantu oleh tenaga ahli yang bekerja tiap hari, selian itu turut melibatkan para ibu – ibu yang tak jauh bermukim, mereka turut mengerjakan bagian- bagian topi, seperti memilah bulu, merangkai tangkai, serta memasang monte. Pekerja dominan asal Banyuwangi dan Madura, “ Mereka ini anak – anak borongan, ada juga bekerja dibayar bulanan, “ ujarnya.

Edi mengaku, sebagai tempat produksi topi yang mungkin jarang bisa ditemui ini sudah digelutinya sejak dia mulai pertama bekerja dengan orang lain, Di bidang yang sama, dia mulai mengenal cara bagaimana membuat jenis topi yang banyak digemari oleh wisatawan asing, “ Dulu saya bekerja di bali indian, “ celetuknya. Ketika itu yang dirasakan, bahwa jenis topi semacam ini belum terlalu dikenal dipasaran. Ia kembali mengingat, bahwa jenis bahan yang sempat laku dipasaran adalah topi yang berbahan bulu ayam. Dia menekuninya bersama orang lain sejak tahun 2008 yang saat itu masih bersama pemilik lain.

Sekarang, diakuinya bahwa produksi topi indian ini memang omsetnya lumayan bagus. Banyak peminat, terutama wisatawan asing, bahkan dia punya pelanggan tetap yang memborong kerajinananya secara rutin untuk dijual dan diekspor. Edi selaku pengola meyakini, bahwa usahanya ini masih bisa eksis sampai kapanpun, thingga saat ini ak terkendala oleh bahan baku.

Ditanya soal bahan baku yang merupakan dari bulu ayam, angsa, dan ayam mutiara, dia tidak terlalu mengkhawatirkan akan langkanya bahan tersebut. Sejauh ini, dia merasakan tidak ada masalah soal bahan, terutama bulu ungas yang jarang bisa dujumpai, “ Untuk pasokan bulu, susah – susah gampang. Tapi dipastikan ada, “ ucapnya.

Edi bersama timnya bekerja, sudah dipastikan tiap hari bekerja merangkai topi indian ini ini. Mereka selalu saja menerima order dari pemesan yang sudah terjalin baik. Tiap hari dia harus memproduksi dan menarget karya yang dihasilkan rampung paling sedikit 50 buah. Ia mengaku kalah dengan anak buahnya yang diajak bekerja, mereka bisa sanggup membuat topi 80 sampai 100 perharinya secara ramai – ramai, “ Rata – rata barang saya ini barang ekspor, jarang barang lokal, “ terangnya. Untuk menjalin hubungan kerjasama, mereka dan pihak pemesan sudah menjadi bagian kesepakatan kontrak. Dan ada pula pembeli secara borongan dari pihak tertentu.

Topi Indian, pengerjaannya dibutuhkan keterampilan ekstra. Edi menganggap bahwa pengerjaan selain dibutuhkan keterampilan juga dibutuhkan ketelitian. Karena diakuinya yang paling sulit dilakukan adalah tahap pengerjaan merangkai dan mengkombinasikan warna, “ Kita harus seksama memperhatikan bagian bulu, mana kanan dan kiri, kalau tidak sama, semua akan kelihatan jelek, “ jelasnya.

Edi menawarkan beberapa model topi antaranya, Topi Mohawk, dan Headband. Sedangkan untuk orderan yang sering masuk ia lebih sering mengeluarkan produk topi Angsa Spet, Angsa Celup, Angsa Pucuk, Lancur Celup, semua jenis ini dapt dibentuk lagi menjadi beragam warna.

Warna bisa dikombinasikan mulai dari warna hitam, merah, dan kuning. Sedangkan untuk jenis Lancur sendiri ada warna khusus, dia enggan menyebutkan jenis pewarna yang digunakan Lancur karena menyangkut rahasia pengrajin.

Ukuran yang biasa tersedia disini ada tiga ukuran secara umum. Tiap produksi ia menyiapkan ukuran S, M, dan, L. Ada juga khusus buat anak – anak dan semua bisa nyampur menjadi satu kesatuan hasil produksi kerajinan. Sedangkan soal harga, perbiji topi indian ini dijualnya mulai dari Rp 250 ribu untuk yang L, sedangkan untuk ukuran S dijual seharga Rp 90 ribu. Selain ukuran, yang turut mempengaruhi perbedaan harga juga dari segi bahan. Semua tergantung dari bahan dan model topi yang dibentuk.

Untuk bahan baku sendiri, pihaknya khusus mendatangkan bulu ungas dari wilayah Bandung, Jawa Barat dan Jogjakarta, Jawa Tengah. Mereka menerima bahan bulu yang tergolong bagus, seperti bulu ayam mutiara, kalkul, angsa, dan bulu ayam jago. Yang paling mahal diantara bulu tersebut, adalah bulu kalkul dimana perbiji dihargai Rp 3000, “ Kami juga siap menerima jika ada bulu yang kami butuhkan, “ imbuhnya.

Nah, jika selama ini bagian bulu ungas hanya terdapat pada bulu tangkis, sesekali mengunjungi lebih dekat bagaimana bulu ungas dirangkai menjadi sebuah karya yang bernilai ekspor dan beromset tinggi. Cukup menjangkau beberapa menit dari bandara I Gusti Ngurah Rai, Tuban, tepat disisi selatan ujung timur landasan pesawat. [ BT ] 

Komentar