Eksotisme dan Daya Magis Patung GWK

baliterkini.com

Ungasan, Baliterkini.com - Parahyangan Somaka Giri memiliki sebuah mata air yang keberadaannya berkaitan ke sejumlah pura. Salah satu sumber air yang dianggap suci ini memiliki hubungan erat ke Pura Goa Gong di Jimbaran. Keberadaannya banyak dimanfaatkan oleh umat ataupun wisatawan yang kebetulan datang berwisata di kawasan Patung Garuda Wisnu Kencana, Ungasan.

Sumber mata air atau disebut Kubung oleh warga sekitar diyakini keberadaannya terlebih dahulu ada sebelum tahun 1996. Jauh sebelum kawasan ini dibangun dijadikan pusat pariwisata budaya yang ditandakan dengan keberadaan patung GWK karya dari seniman Nyoman Nuarta. Secara historis, sumber mata air ini diyakini memiliki kekuatan magis untuk menyembuhkan segala macam penyakit .

 “ Penglingsir saya dulu pernah bercerita, bahwa ditempat inilah biasanya digunakan sebagai siraman dedari, “ ujar Jero Mangku Seni atau akrab dipanggil Pan Seni.

Jero Mangku Seni, pria kelahiran tahun 1947 bertugas merawat sekaligus menata tempat suci ini. Kewajibannya sebagai Denbangul memiliki peran penting dalam merawat keberadaan sumber air suci ini. Seperti yang diceritakan, aktifitas merawat sumber air pernah dilakukan dengan cara menguras hingga bersih. Aktifitas ini dilakukannya di sela – sela dirinya melakukan kegiatan berternak yang tak jauh dari kediamannya berada.

Dari sumber air yang memiliki diameter sekitar 15 sentimeter ini, dirinya hanya sanggup meraih hingga kedalaman satu meter. Sambil perlahan membersihkan lumpur, di kedalaman itu diketahuinya lagi terdapat beberapa cabang lagi.

“ Saya dulu pernah membersihkan sumber air ini menjadi Denbangul, namun sebelumnya saya memohon dulu menggunakan sarana Banten Pejati, “ kata Jero Mangku Seni saat Baliterkini.com mengunjungi kediamannya di desa Ungasan, yang tak jauh dari patung GWK.

Hasilnya, diketahui ada sejumlah cabang sumber mata air yang diyakini berkaitan ke sejumlah pura. Sumber mata air yang keluar dari cabang Kaje Kangin ( Timur Laut ) diyakininya berkaitan erat ke Pura Goa Gong, begitu pula cabang air yang keluar dari arah Kaja Kauh ( Barat Laut ) diyakini memiliki hubungan dengan Pura Pengulapan.

Sementara Kelod Kangin ( Tenggara ) masih belum ada pura yang bisa merujuk dari keyakinannya itu. Masing – masing sumber arah mata air ini sewaktu – waktu diambil sebagai pengobatan selain juga sebagai air suci.

Banyak sudah umat menggunakan sumber air suci ini, bahkan hampir setiap wisatawan yang datang pun memanfaatkannya. Tak jarang, di tempat sebagai sumber air suci ini ada wisatawan yang turut bersembahyang, memohon keselamatan sesuai keyakinan mereka.

“ Disini bebas siapapun bisa bersembahyang menurut keyakinan. Jeg mileh sampun tirta nika, wenten sane bakta budal ke Jawa, Lombok, Sumatera, “ Jelasnya berbahasa bali campuran.

Sumber air suci ini, tak ubahnya seperti Pura Sad Kahyangan, keberadaannya pun dibarengi dengan bangunan sejumlah Pelinggih. Keberadaan sumber air ini pun membawa nama Pura Semara Giri, nama tersebut menurut Jero Mangku Seni atas prakarsa dari seorang keturunan dari Puri Agung Nyalian, Klungkung bernama Agung Rai, “ Sumber mata air ini mewasta Kubung, naum pura ini disebut Parahyangan Somaka Giri  yang memiliki arti Segara Gunung, “ katanya.

Disekitar kawasan Parahyangan Somaka Giri terdapat Palinggih, antaranya Padmasana, Pengrurah, Pesambiangan Dalem Ped, dan Ratu Niang Sakti. Palinggih yang terdapat disekitar area Patung GWK ini bergaya arsitektur Bali dan Jawa berdiri paling kokoh di sisi timur. Pura Semara Giri menjadi pusat perhatian semua umat tatkala hari Purnama tiba, mereka umumnya ramai datang bersembahyang saat waktu ini.

Setiap hari suci Purnama, Jero Mangku Seni manghaturkan sejumlah sarana Daksina yang dihaturkan ke sejumlah tempat suci yang berada di sekitar pura maupun dikawasan patung GWK. Sebanyak 18 sarana Daksina dia haturkan setiap bulan Purnama, “ Hanya sewaktu hari Tilem, yang dihaturkan sarana Soda, “ imbuhnya.

Parahyangan Soma Giri, besanding megah dengan patung GWK dari ketinggian 276 meter di atas permukaan laut. Pujawali jatuh setiap pada hari Purnama Kapat, yang mana selaku Pangempon sepenuhnya dilakukan oleh pihak pengelola Patung GWK, serta umat Hindu yang berada di sekitar Ungasan.

Serta dipimpin sepenuhnya oleh Jero Mangku Seni selaku pemuput upacara yang dipercaya sejak dulu. Sumber mata air ini hingga kini masih terawat tertutup cangkang kerang agar tidak dialiri air dari luar menjadi daya tarik melengkapi kunjungan di GWK. [BTcom]

Komentar