Melatih Kerbau Makepung di Pacuan Delod Berawah

baliterkini.com

Jembrana, Baliterkini.com - Made Ratama, 48 tahun, sudah 30 tahun dirinya berkecimpung dalam kegiatan Makepung. Setiap perlombaan tiba, dirinya bertugas selaku Sekretaris Koordinator Makepung di Kabupaten Jembrana. Dirinyalah yang bertugas mengatur setiap jadwal latihan serta jadwal agenda perlombaan yang diadakan antara bulan Juli sampai Nopember setiap tahun.

Diluar perlombaan, dirinya bersama regu Ijo Gading Timur secara rutin mengadakan latihan. Kegiatan latihan hampir rutin dilakukan setiap Sabtu dan Minggu. Regu Ijo Gading Timur punya dua lokasi sebagai tempat latihan, yakni Sirkuit Lapangan Delod Berawah dan Sirkuit Lapangan Merta Sari. Kedua sirkuit ini memiliki medan berbeda, bila musim hujan tiba, Sirkuit Delod Berawah akan lebih digemari, mengingat sepanjang jalur terdapat pasir yang mempermudah gerak laju kerbau bersama Cikar.

Sungai Ijo Gading adalah batas antara kedua kelompok atau Sekehe Makepung ini di Jembrana. Untuk lebih mudahnya membedakan dapat dilihat dari warna Cikar atau Gerobak. Kelompok Ijo Gading Timur warna Cikar atau gerobaknya berwarna biru, sedangkan Ijo Gading Barat berwarna kuning.

 Regu Ijo Gading Barat pun kerap melangsungkan latihan di wilayahnya sendiri. Sirkuit yang sering dipergunakan kelompok Ijo Gading Barat, yakni Sirkuit Awen, Sirkuit Kali Akah, Sirkuit Pangkung Dalem dan Sirkuit Sanghyang Cerik. Baik itu regu Ijo Gading Barat maupun Regu Ijo Gading Timur, tak memungkiri bertemu dalam satu sirkuit bila salah satu sirkuit tidak memungkinkan digunakan sebagai aktifitas latihan. Mereka bertemu untuk saling melatih kemampuan Kerbau berlaga.

“ Latihan ini bertujuan untuk mengetahui kecepatan lari setiap pasangan kerbau. Nanti akan kelihatan apakah mereka mengalami peningkatan atau penurunan, “ Kata Made Ratama, ketika ditemui dikandang kerbau miliknya, Banjar Ketugtug, Kelurahan Loloan Timur, Jembrana, tepat disisi timur bibir Sungai Ijo Gading, Minggu ( 8/02/2015 ).

Lebih jauh dikatakan, ada banyak faktor yang mempengaruhi Kerbau Makepung ini mengalami peningkatan atau penurunan prestasi. Bukan saja karena faktor latihan, faktor  makanan juga bisa mempengaruhi penurunan prestasi. Untuk itu dibutuhkan perawatan yang maksimal untuk menjaga  kerbau ini tampil prima saat lomba berlangsung.

Tak ada perlakuan khusus yang dilakukan, secara rutin kerbau Makepung ini diberi rumput kering serta tanaman jagung kering. Setiap pagi dan sore hari, kerbau dilap basah menggunakan air hangat. Hanya saja, menjelang perlombaan tiba ada sedikit perlakuan khusus, ada penambahan stamina berupa suntikan yang diberikan langsung oleh ahlinya, yakni dokter hewan. Begitu pula pola makan turut diatur untuk mengurangi kadar air dalam tubuh.

“  Perawatan Kerbau tidak ada yang istimewa, sama seperti kita manusia, ada saatnya makan, mandi, dan dirawat. Sekarang serba praktis, ada suntikan yang khasiatnya seperti Jamu untuk menjaga staminanya, “ terang Made Ratama, yang juga seorang Guru Matematika di Sekolah Menegah Pertama di Mendoyo.

Kesempatan berlatih, bukan saja untuk mengetahui kemampuan kerbau berlari, selain itu juga untuk melatih keahlian Joki menguasai diri bersama kerbau. Karena keahlian Joki ini dibutuhkan keahlian khusus. Sehingga dalam latihan pula, dapat menjaring Joki baru yang siap dihandalkan diperlombaan. Syarat untuk menjadi Joki handal harus giat berlatih. Berdiri di atas tali pedati sambil mengatur kecepatan kerbau dibutuhkan keahlian khusus. Bila tehnik ini semua dikuasi, kecepatan dan keseimbangan diri  bersama Cikar bisa dikuasai secara matang, karena sekali pecut, kecepatan kerbau berlari bisa sampai 60 kilometer perjam dalam kondisi sirkuit tanpa batu atau lumpur. Bobot kerbau pun bisa mulai dari 600 kilogram bahkan lebih.

“ Menjadi Joki harus memiliki keterampilan khusus, syaratnya harus keberanian. Tidak sembarang orang berani, karena taruhannya nyawa, “ imbuh Ratama.

Melihat suasana berlatih, tak ubahnya berada dalam laga perlombaan. Semangat Joki mengendalikan Kerbau tergambar dari raut wajah serta semangat pendukungnya. Maka tak jarang pula kondisi ngeri ini terlihat dari beberapa Kerbau yang nampak berdarah – darah dari bekas pentungan yang dimodifikasi dengan jeruji paku. Hal ini seolah sudah menjadi  pemandangan biasa menjadi sebuah tradisi dalam setiap ajang Lomba Makepung.

Luka dari kerbau sudah terbiasa terjadi, bahkan tanpa luka dari darah yang mengucur diyakini akan membawa efek luka dalam yang serius. Tak heran, penonton merasa kasihan dan bahkan menganggap pemilik kerbau tidak sayang terhadap kerbau peliharaannya. Saat latihan maupun lomba berlangsung, menyaksikan kerbau mengeluarkan darah segar dari dagingnya ini menjadi perhatian khusus bagi sejumlah orang.

“ Kami menggunakan Bongkol berisi paku ini untuk memacu kecepatan kerbau, ada bagian tertentu yang boleh dipukul, khususnya bagian kulit tebal. Tujuan agar darah ini keluar, kalau sampai darah tidak keluar akan menimbulkan luka dalam yang penyembuhannya bisa lama, “ terang Ratama

Lanjut Ratama, dia menepis persepsi bahwa tidak menyayangi binatang peliharaan dalam hal ini kerbau. Justru dirinya menilai, setiap hari merawat kerbau penuh dengan rasa kasih sayang. Karena selain sisi kemanuasian nilai kerbau juga bisa setara dengan harga sebuah mobil untuk sepasang kerbau pacu. Luka akibat benda paku ini hanya bisa disembuhkan dalam waktu sehari menggunakan cara tradisional atau yang lebih manjur pakai salep khusus.

Atraksi Makepung merupakan tradisi turun temurun, kini semua golongan bisa menjadi bagian dari kegiatan ini. Atraksi ini bukan saja populer dikalangan petani namun juga sudah menjadi bagian dari kegemaran yang tak bisa dilepas begitu saja. Makepung yang merupakan ikon Kabupaten Jembrana kini telah menjadi warisan budaya nasional. Atraksi Makepung sudah menjadi egenda tahunan yang ramai ditonton oleh wisatawan termasuk turis asing. [ BT ]

Komentar