Warung Gonda Putri, Digemari Berbagai Kalangan

baliterkini.com

Kedonganan, Baliterkini.com - Di dalam gubug bambu, tempat tinggalku. Disini kurenungi nasib diriku. Sepenggal lirik lagu Gubug Bambu oleh Meggy Z ini mengantarkan sejumlah pengunjung Warung Gonda Indah waktu santap siang berlangsung. Di bawah terik mentari yang menyengat, dari peralatan organ tunggal ini seorang vokalis menjual suaranya dari pintu ke pintu menyejukan suasana warung.

Warung Gonda Indah spontan mendapat hiburan dadakan. Warung ini menyajikan masakan khas bali dengan berbagai varian olahan khas bali. Warung yang berada di Jalan Toya Ning, Kedonganan, Kuta Selatan ini bergaya warung rumahan yang menyajikan nasi campur. Aneka lauk pauk yang dipajang bisa dipilih sesuai selera guna melengkapi suguhan nasi putih atau nasi jagung yang melegenda.

Ni Wayan Gandri Putri, 54 tahun, adalah sosok dibalik warung ini. Lewat sentuhan tangan dinginnya mampu meracik olahan khas bali yang telah banyak digemari pengunjung. Pelanggan dari berbagai kalangan pun turut merasakan berbagai suguhan yang ada di balik rak kaca ini. Keuletan dan kerja keras serta konsistensi membuka warung  wajib dicontoh. Karunia pemikiran meramu masakan ini digelutinya sejak tahun 1996 dengan bermodal  pengalaman dari membantu beberapa rumah makan di masa lampau, “ Niat saya menciptakan masakan khas bali ini berawal dari membantu orang, serta didorong pula atas suasana hati yang paling dalam, “ ujarnya.

Menyumbang hasil cipta karya lewat bidang masakan, kerja keras selama puluhan tahun ini bisa dibuktikan dari banyaknya kunjungan yang pernah bertandang. Bukan saja kalangan bawah, kalangan atas pun turut memberikan sumbangsih rejeki dalam bentuk kunjungan. Hal ini bukan sekedar alasan, daya tarik ini bisa dibuktikan lewat sajian olahan Sayur Gonda dan Ikan, yang dipadu dengan sambal matah. Maka tak salah, begitu sekali merasakan salah satu menu disini akan terngiang sepanjang hari, “ Yang paling laris itu menu ikan dan menu plecing gonda, kalau tidak ada dua ini warung akan terasa hampa apalagi tanpa ada sambal matah, “ kata Ni Wayan Gandri atau akrab dipanggil Gonda Putri.

Gonda Putri, penduduk asli Kedonganan ini menambahkan, selain memiliki ciri khas dari segi rasa, warungnya juga dikelola secara pribadi dibantu beberapa perempuan ikut memasak saban hari. Kerja keras ini dimulai sejak pagi pukul 5 dini hari. Semua ini bukan sekedar menuai kepuasan rasa masakan. Lebih dari itu mampu menciptakan rasa bangga atas banyaknya kunjungan dari berbagai golongan dan elemen masyarakat. Tak heran, kunjugan para pejabat di lingkungan propinsi bali, pegawai pemerintahan badung, tokoh masyarakat, turis mancanegara hingga turis lokal. Situasi ini toh tidak bikin tinggi hati, ia tetap melayani siapapun tanpa melibatkan orang bawahan hingga saat ini.

Setelah banyak menyumbang keringat, karunia rejeki yang diperolehnya tidak semata – mata digunakan untuk berhura – hura. Selain digunakan beryadnya, bentuk membayar kepuasan berdagang ini, jika ada waktu ia menyempatkan diri menyambangi negara lain untuk berlibur. Kebanggan ini ia buktikan dalam bentuk kenangan yang diabadikan di sudut rak kaca tempat menu khas bali dikemas, “ Bersama sepupu, terkadang saya tutup warung lama. Menikmati hidup berlibur ke luar negeri, toh juga jarang – jarang. Karena bila mati nanti harta atau kekayaan tidak ikut terbawa, “ tuturnya.

Rejeki yang diperolehnya ini murni kerja keras, menjual masakan khas bali hingga dikenal secara luas serta merta membawa peluang hidup yang lebih bergairah. Olahan ikan laut, plecing kangkung, dan sambal matah turut mengantarkan dirinya terbang ke luar negeri. Warung Gonda Indah saban hari akan buka mulai dari pukul 8 pagi sampai pukul  3 sore. Bila hari besar Hindu tidak tutup kemungkinan warung ini tutup. Ibarat sudah ditakar, saban hari, menu ini habis sesuai waktu menjelang jam tutup dan terlihat ramai bila waktu buka tiba, “ Kalau sore lebih dari jam tiga, pengunjung sudah sepi, jumlah menu pun sudah pas-pasan, “ pungkasnya. [ BT ]


TAGS :

Komentar