Nengah Sukila, Serius Kelola Bank Sampah

baliterkini.com

Jembrana, Baliterkini.com - Sampah dan barang rongsokan menjadi bagian dalam kesehariannya. Dari sampah- sampah yang tak berguna dan tak terpakai ini ada nilai yang bisa ditukar dengan uang.

Bekerja mencari dan memilah sampah, terutama yang bernilai ekonomi, memang harus butuh keiklasan tanpa memandang buruk pekerjaan itu. Kita tahu bahwa permasalahan sampah bukanlah permasalahan yang bisa dibiarkan begitu saja. Diperlukan tindakan nyata dan kerjasama oleh setiap lapisan masyarakat.

I Nengah Sukila, pria paruh baya asal Desa Pekutatan, Jembrana, melihat akan keadaan ini. Pekerjaan mengumpulkan sampah memang seharusnya harus dijalani demi sebuah hasil. Kesan kotor terpaksa dia tanggalkan demi hasil dari sampah yang menjanjikan. Dari langkah kecil ini akhirnya ia bisa ikut berperan serta mengaktifkan program pemerintah melalui Bank Sampah.

Bank Sampah berdiri dari sebuah pekarangan yang sepintas nampak kumuh. Dari pekarangan ini ada berbagai bentuk sampah, besi tua, koran bekas, dan kertas-kertas. Siapa sangka dari benda- benda ini dia sanggup memberdayakan masyarakat untuk terlibat langsung menjadi bagian peduli lingkungan lewat sebuah langkah mengumpulkan sampah. Dia beranggapan dari sampah ini, mampu meberi hasil yang setara dari menjual hasil bumi yang secara dobel ia tekuni.

“ Saya tahu sampah ini memiliki nilai jual yang tinggi setalah ada teman dari Jawa yang bersedia membeli, “ Ujar Sukila.

Nengah Sukila mengungkapkan, bahwa hasil dari sampah begitu lumayan, dia makin konsisten memanfaatkan pekarangan yang disewanya sebagai gudang penyimpanan. Lama- kelamaan ketekunannya kemudian dilirik oleh pejabat di tingkat kecamatan serta beberapa pejabat di wilayah kabupaten. Ibarat gayung bersambut, muncul sebuah ide dari  kecamatan untuk lebih serius mengelola sampah.

“  Waktu itu saya didatangi oleh bapak camat, saat itu dijabat Bapak Gede Budiarta. Beliau kemudian meyuruh untuk lebih serius menekuni kegiatan ini. Dan kami diberikan sumbangan lahan dan sepeda Viar, “ terangnya.

Setelah program ini dicanangkan, pada 5 Juni 2013 terbentuklah Bank Sampah yang semakin rapi memiliki sejumlah anggota serta struktur kepengurusan. Keberadaan Bank Sampah yang notabene memiliki anggota atau Kelompok Masyarakat (POKMAS) bernama Sarwa Guna Hita semakin gencar melakukan kegiatan sampah sebagai upaya peduli terhadap lingkungan. 

Mereka secara rutin mendatangi tempat- tempat yang sudah dijadwalkan. Hampir setiap hari Nengah Sukila bergerak memungut sampah bersama dengan angota lainnya.

“ Selain mengumpulkan sampah dari perkantoran, sekolah, kawasan hotel dan beberapa rumah penduduk, kami juga sering dipanggil untuk memberikan penyuluhan tentang kesadaran masyarakat membuang sampah, “ kata Sukila yang juga sebagai ketua kelompok.

Sukila menambahkan, sejauh ini dari kelompok Sarwa Gita Hita sudah ada 10 anggota. Sementara untuk nasabah sendiri sampai saat ini Bank Sampah sudah memiliki 70 nasabah. Mereka yang menjadi nasabah berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari kalangan pelajar, hotel, dan dasa wisma. Sambil menunjukan salah satu bentuk tabungan Bank Sampah, ia menguraikan bahwa Tabungan Bank Sampah memiliki tabungan reguler, tabungan sekolah, tabungan hari raya, dan tabungan sosial.

 “ Untuk Tabungan Reguler nasabah bisa sperti menukar barang langsung, mereka bawa sampah lantas kami berikan uang secara langsung. Tentunya jumlah barang akan kami timbang terlebih dahulu, “ terangnya.

Berbagai jenis sampah yang bisa masyarakat uangkan, antaranya besi, seng, omplong, ember, kertas baik itu kertas duplex, HVS, dan CD, semua bisa dijadikan uang disini. Setelah semua mereka terima lantas di sebuah ruangan yang luasnya sekitar 4 are ini, upaya pemilahan dilakukan. Kemudian semua sampah yang sudah dipilah untuk selanjutnya dijemput oleh pembeli yang datang dari pulau Jawa.

“ Kami mendatangkan pembeli dari Jawa dengan perjanjian kami yang tanggung sendiri ongkosnya, mereka tinggal beli dan mengangkut semua sampah ini, “ pungkas Sukila. [BT]

Komentar