160 x 600 AD PLACEMENT
160 x 600 AD PLACEMENT
160 x 600 AD PLACEMENT
160 x 600 AD PLACEMENT
Advertisement

Karya Agung Ki Pasek Badeg Jadi Momentum Selamatkan Jejak Leluhur di Karangasem

Deskripsi gambar
Judul atau caption gambar (opsional)

Karangasem, Bali Terkini- Upaya menjaga jejak sejarah leluhur kembali mendapat perhatian di Karangasem. Pasemetonan Ki Pasek Badeg tidak hanya mempersiapkan pelaksanaan Karya Agung, tetapi juga berupaya menyelamatkan warisan leluhur yang tersimpan di pura kawitan hingga naskah kuno.

Advertisement

Hal tersebut disampaikan saat Bupati Karangasem I Gusti Putu Parwata alias Gus Par menerima penglingsir dan panitia Karya Agung Pasemetonan Ki Pasek Badeg di Kantor Bupati Karangasem, Senin (12/10).

Pertemuan tersebut menjadi momentum bagi pemerintah daerah untuk memberikan apresiasi terhadap komitmen pasemetonan dalam menjaga peninggalan leluhur. Gus Par menilai keberadaan pura kawitan maupun peninggalan sastra memiliki nilai penting bagi identitas dan sejarah masyarakat Karangasem.

Menurut dia, warisan leluhur tidak cukup hanya dipertahankan secara fisik. Pengetahuan, sejarah, serta nilai yang terkandung di dalamnya juga harus diwariskan kepada generasi muda.

“Karangasem merupakan gudangnya sastra yang harus dijaga kelestariannya. Saya mengapresiasi seluruh Pasemetonan Ki Pasek Badeg yang memiliki kesadaran untuk menjaga dan melestarikan warisan leluhur,” ujar Gus Par.

Ia juga menyampaikan dukungan terhadap pelaksanaan Karya Agung yang puncaknya dijadwalkan berlangsung pada Sabtu (31/10). Di tengah persiapan karya, Gus Par mengingatkan pasemetonan agar tetap menjaga persatuan.

“Jaga kekompakan, paiketan atau pasemetonan,” tegasnya.

Sementara itu, Ketua Panitia Karya, I Nyoman Sidia, mengungkapkan Karya Agung tersebut memiliki arti penting bagi Pasemetonan Ki Pasek Badeg. Berdasarkan penelusuran para penglingsir, upacara dengan tingkatan besar seperti yang akan dilaksanakan kali ini diperkirakan belum pernah digelar selama kurang lebih lima generasi.

Advertisement

Karena itu, karya tersebut tidak hanya dipandang sebagai rangkaian upacara keagamaan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya memperkuat kembali hubungan dengan leluhur.

“Ini bukan sekadar karya. Kami ingin menguatkan kembali hubungan dengan leluhur sekaligus memastikan warisan yang masih ada hari ini tetap terjaga dan bisa dikenal generasi berikutnya,” kata Sidia.

Upaya pelestarian Pura Kawitan Ki Pasek Badeg sendiri telah dilakukan secara swadaya oleh pasemetonan selama sekitar 15 tahun. Perbaikan dilakukan secara bertahap, terutama terhadap sejumlah bangunan pura yang mengalami kerusakan akibat faktor usia maupun dampak erupsi Gunung Agung pada 1963.

Tak berhenti pada bangunan pura, perhatian juga diberikan terhadap peninggalan berupa naskah kuno. Salah satunya Lontar Kandan Pasek yang memuat informasi mengenai keberadaan Ki Pasek Badeg.

Naskah tersebut berhasil diselamatkan melalui kerja sama dengan Universitas Udayana. Proses pelestariannya mencakup perawatan naskah, alih aksara, hingga alih bahasa. Hasilnya kemudian diterbitkan dalam bentuk buku agar informasi yang terkandung di dalamnya dapat diakses dan dipelajari oleh generasi berikutnya.

Adapun rangkaian Karya Agung Pasemetonan Ki Pasek Badeg meliputi Numbung Pedagingan, Ngenteg Linggih, Mepedudusan Agung, Manawa Ratna dan Balik Sumpah dengan tingkatan Madianing Utama.

Melalui pelaksanaan karya tersebut, pasemetonan berharap bukan hanya dapat menjalankan kewajiban keagamaan, tetapi sekaligus memperkuat komitmen untuk merawat pura, mendokumentasikan sejarah, dan menjaga warisan leluhur agar tidak terputus di tengah perubahan zaman. (dkk)

Deskripsi gambar
Judul atau caption gambar (opsional)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Lainnya
930 x 180 AD PLACEMENT