


Karangasem, Bali Terkini- Kemegahan Taman Soekasada Ujung di Desa Tumbu, Kecamatan Karangasem, tidak semata-mata lahir dari keindahan kolam, taman, dan panorama laut.

Di balik bangunan-bangunan peninggalan Kerajaan Karangasem, tersimpan kisah tentang pertemuan budaya yang berlangsung lebih dari satu abad silam.
Ragam bentuk bangunan di kompleks taman tersebut memperlihatkan bagaimana pengaruh arsitektur dari luar Bali berpadu dengan tradisi lokal. Sentuhan India, Eropa, Tiongkok, dan arsitektur Bali menjadi bagian dari wajah Taman Soekasada Ujung yang masih dapat dinikmati hingga kini.

Keberagaman itu tidak muncul secara kebetulan. Hubungan Kerajaan Karangasem dengan berbagai pihak pada masa lalu turut memengaruhi corak bangunan yang didirikan di kawasan taman tersebut.
Pengelola Taman Soekasada Ujung, Anak Agung Made Dewandra Djelantik, mengatakan setiap bangunan di kawasan itu memiliki karakter arsitektur yang dipengaruhi beragam kebudayaan.
“Jadi arsitek bangunan ini dipengaruhi dari berbagai budaya,” ujar Dewandra, Sabtu (19/9/2026).
Salah satu bangunan yang menyimpan cerita mengenai hubungan Kerajaan Karangasem dengan dunia luar adalah Bale Kapal.

Bangunan ini berada di bagian atas kompleks Taman Soekasada Ujung. Posisinya yang lebih tinggi membuat pengunjung dapat melihat panorama laut di kawasan Ujung dari tempat tersebut.
Namun, daya tarik Bale Kapal bukan hanya terletak pada lokasinya. Bentuk bangunannya disebut memperlihatkan pengaruh arsitektur India.
Menurut Dewandra, corak tersebut berkaitan dengan hubungan Kerajaan Karangasem dengan pihak luar, termasuk kedatangan tamu dari Kerajaan India pada masa lalu.
“Bentuk arsiteknya kental dengan nuansa India. Karena dulu tamu dari Kerajaan India pernah singgah ke sini,” tuturnya.
Selain menyimpan jejak percampuran budaya, Bale Kapal juga memiliki cerita mengenai fungsi kawasan taman pada masa kerajaan. Bangunan tersebut dahulu digunakan untuk memantau lalu lintas kapal di perairan Ujung.
Dari area Bale Kapal, pengunjung juga dapat menuruni sejumlah anak tangga menuju bagian utama kompleks taman. Perjalanan ke bawah membawa wisatawan melewati susunan bangunan dan lanskap yang menjadi bagian dari rancangan taman kerajaan.
Di bagian bawah kompleks, terdapat Bale Gili yang dikelilingi kolam. Bangunan ini menjadi salah satu pusat perhatian karena bentuknya menyerupai paviliun yang berdiri di tengah kawasan taman.
Jika Bale Kapal menampilkan pengaruh arsitektur India, Bale Gili justru memperlihatkan perpaduan gaya Eropa dengan karakter arsitektur Bali.
Pada masa Kerajaan Karangasem, bangunan tersebut bukan sekadar pelengkap taman. Bale Gili digunakan oleh raja untuk menerima dan menjamu tamu-tamu penting yang datang ke Karangasem.
“Bale Gili ini menjadi bangunan utama yang dipakai raja menjamu tamunya yang datang di Karangasem,” jelas Dewandra.

Keberadaan Bale Gili memperlihatkan bahwa Taman Soekasada Ujung sejak awal tidak hanya dirancang sebagai tempat untuk menikmati keindahan alam. Kompleks ini juga memiliki fungsi sosial dan kerajaan, terutama dalam menyambut tamu serta membangun hubungan dengan pihak luar.
Taman Soekasada Ujung mulai dibangun pada 1909 atas gagasan Raja Karangasem, Anak Agung Anglurah Ketut Karangasem. Pembangunan kompleks taman seluas sekitar 10 hektare itu berlangsung selama bertahun-tahun hingga rampung pada 19 September 1921.
Sejak awal, kawasan tersebut dirancang dengan unsur kolam, pepohonan, serta bangunan-bangunan yang menyatu dengan lingkungan alam. Taman ini juga menjadi tempat bagi kerajaan untuk menerima tamu dan kolega penting.
Pemilihan kawasan Ujung sebagai lokasi pembangunan taman diyakini memiliki pertimbangan tersendiri. Selain kondisi alamnya, aspek spiritual juga disebut menjadi bagian dari pertimbangan pada masa itu.
“Mungkin memilih tempat di sini pasti ada pertimbangan dan melibatkan spiritualitas dari beliau saat itu,” kata Dewandra.
Konsep Taman Soekasada Ujung tidak terlepas dari keterkaitan antara alam dan kehidupan kerajaan. Di dalam rancangan taman terdapat tiga unsur penting, yakni laut, gunung, dan air yang bersumber dari mata air.
Pola serupa, menurut Dewandra, juga dapat ditemukan pada sejumlah taman peninggalan Kerajaan Karangasem lainnya, termasuk Taman Tirta Gangga di Karangasem dan Taman Mayura di Lombok.
“Taman Tirta Gangga, Taman Mayura di Lombok itu hampir mirip-mirip,” ujarnya.

Perjalanan panjang Taman Soekasada Ujung tidak sepenuhnya berjalan mulus. Sejumlah bangunan di kompleks tersebut sempat mengalami kerusakan akibat gempa. Kawasan ini kemudian menjalani proses restorasi pada 2001 dan terus ditata hingga sekarang.
Lebih dari satu abad setelah pembangunannya dimulai, Taman Soekasada Ujung tetap menjadi salah satu destinasi wisata di Karangasem. Wisatawan datang untuk menikmati kolam, pepohonan, bangunan bersejarah, dan pemandangan laut.
Namun, di balik keindahan tersebut, tersimpan cerita tentang bagaimana Kerajaan Karangasem berinteraksi dengan berbagai kebudayaan dari luar Bali. Setiap bangunan menjadi bagian dari perjalanan sejarah yang memperlihatkan pertemuan antara tradisi lokal dan pengaruh asing.

Dewandra berharap kunjungan wisatawan ke Taman Soekasada Ujung tidak berhenti pada kegiatan rekreasi. Menurutnya, kawasan tersebut juga dapat menjadi ruang untuk mengenal sejarah dan memahami warisan arsitektur Kerajaan Karangasem.
“Mereka yang berkunjung ke Taman Ujung ini merasakan kedamaian. Meski berdampingan dengan pantai, di sini sejuk. Kami harap pengunjung tidak hanya liburan ke sini, tapi ada edukasi sejarah,” harapnya.
Caption: Perpaduan bangunan bersejarah dan lanskap kolam menjadi daya tarik Taman Soekasada Ujung, Karangasem.
