


Bangli, Bali Terkini – Di tengah hiruk-pikuk pariwisata Bali, Desa Wisata Penglipuran, Bangli kembali membuktikan bahwa akar budaya dan spiritualitas selalu berada di atas segalanya. Pada Minggu, 6 September 2026, desa yang dinobatkan sebagai salah satu desa terbersih di dunia ini akan menutup total seluruh aktivitas wisatanya selama satu hari penuh. Mengingat pada saat itu, masyarakat adat Penglipuran akan menyelenggarakan Upacara Melasti, yang merupakan bagian penting dari rangkaian ritual agung Karya Mamungkah Agung, Ngenteg Linggih lan Mupuk Pedagingan di Pura Dalem Pelapuan setempat.

Baca Juga : Parade Budaya ‘Peed Ayu’ Semarakan Pembukaan Penglipuran Village Festival XIII Tahun 2026
Penutupan ini berlaku tanpa pengecualian di seluruh lanskap Penglipuran, mulai dari kawasan pemukiman adat, Konservasi Hutan Bambu yang asri, hingga Bamboo Café. Selama ritual berlangsung, denyut pariwisata disenyapkan sejenak agar prosesi adat dapat bergulir dengan penuh kekhusyukan dan kesucian.
Kelian Desa Adat Penglipuran, I Wayan Budiarta, menegaskan bahwa jeda singkat ini merupakan wujud komitmen teguh warga dalam merawat warisan leluhur. ”Upacara suci ini adalah jantung dari kehidupan spiritual kami. Seluruh aktivitas pariwisata dihentikan sementara agar seluruh krama (warga adat) dapat menyatu dan fokus menjalankan kewajiban suci ini,” ujar Budiarta, Rabu (5/8/2026).
Bagi warga Penglipuran, tradisi bukanlah sekadar atraksi untuk menyenangkan wisatawan, melainkan roh yang menghidupi desa mereka. Keaslian budaya inilah yang selama ini menjadikan Penglipuran magnet wisata budaya bergengsi di tingkat internasional.
Baca Juga : Sempat Vakum Puluhan Tahun, Tari Baris Paku Direkonstruksi, Penari Pantang Konsumsi Daging Babi
Senada dengan hal tersebut, Ketua Baga Utsaha Padruwen Desa Adat (BUPDA) Penglipuran, I Wayan Sumiarsa, menjelaskan bahwa kebijakan ini adalah potret nyata dari penerapan pariwisata regeneratif (regenerative tourism). “Pariwisata bukan sekadar mengejar angka kunjungan, melainkan bagaimana menjaga budaya, alam, dan nilai-nilai adat tetap lestari. Kami ingin membuktikan bahwa pariwisata bisa bertumbuh selaras tanpa mengorbankan kesucian tradisi,” ujar Sumiarsa.
Lebih lanjut, pihak pengelola menghimbau seluruh wisatawan, biro perjalanan (travel agent), serta pelaku industri pariwisata untuk menyesuaikan ulang agenda kunjungan mereka. Yang mana, penutupan total selama sehari bakal dilakukan pada Minggu, 6 September 2026 dan akan kembali dibuka pada Senin, 7 September 2026 (Operasional normal). “Mewakili masyarakat dan pengelola, Desa Adat serta BUPDA Penglipuran, kami menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan yang timbul dan apresiasi setinggi-tingginya kepada para wisatawan yang turut menghormati kesakralan tradisi Bali,” pungkasnya. (***)

