Kamis, 31/07/2014 | Dibaca : 10659 Kali
Menjadi Usaha Warisan Leluhur
Menengok Proses Pembuatan Arak di Sidemen

Sumber Photo : baliterkini.com


Karangasem, Baliterkini.com - Mari melihat proses pembuatan arak, caranya cukup sederhana dan masih tradisional. Di Sidemen sendiri hampir mudah menemukan alat pembuatan arak yang dikenal oleh penduduk setempat dengan sebutan “ Pengarakan “.

“ Membuat arak memang ada sudah dulu kala, kami melakukannya dari turun temurun, “ kata Nengah Alit, petani sekaligus pembuat arak asal Banjar Lambang, Desa Tri Eka Buana, Sidemen.

Kegiatan pembuatan arak dapat dilihat secara langsung. Proses penyulingan dapat dilakukan hampir sehari penuh untuk mendapatkan kadar alkohol yang bagus. Kadar alkohol yang ada dalam arak bisa mencapai 50 persen.

“ Arak yang bagus biasanya kalau disulut dengan korek api akan mengeluarkan api berwarna biru, “ imbuh Nengah Alit.

Biasanya, kegiatan penyulingan dilakukan oleh kaum perempuan yang masih muda atau sudah renta. Sementara kaum laki sibuk mengolah ladang dan mencari “ tuak ”. Hampir semua produksi arak yang ada di wilayah Kecamatan Sidemen warisan dari turun temurun. Kegiatan membuat arak dilakukan dengan memanfaatkan pertumbuhan kelapa yang tumbuh silih berganti. 

Arak kebutuhannya sudah merambah luas, dari kebutuhan keagamaan menjalar menjadi kebutuhan pariwisata terutama di bidang bar dan restoran. Minuman arak telah menjadi spirit dalam racikan minuman. Sebagian orang masih beranggapan arak merupakan barang haram dan ilegal karena memabukan. Penjualan arak bila tidak dilengkapi ijin bisa dianggap melanggar aturan dan agama.

Minuman jenis ini masih menjadi barang yang memiliki nilai tinggi di bidang ekonomi sekaligus sebagai penopang kehidupan petani di desa. Kondisi ini menjadikan para petani yang berada di dusun wilayah Sidemen secara konsisten memproduksi arak guna sekaligus mempertahankan warisan pendahulunya.

Arak berasal dari proses menyadap bunya kelapa, dimana sari dari bunga kelapa ini ditampung kemudian dijadikan “ tuak” yang disimpan dalam sebuah tong. Proses mencari “tuak” atau yang dikenal penduduk Sidemen dikenal dengan istilah “ Ngirisin “. Kata “ Ngirisin”  berasal dari kegiatan menyadap dengan cara mengiris bagian putik bunga kelapa. Kegiatan ini biasanya dilakukan pada pagi dan sore hari. “ Ngirisin” ini umumnya dilakukan oleh kaum laki – laki.

Bila berkunjung di salah satu sudut desa di Sidemen, akan jelas terlihat kegiatan “ Ngirisin ” yang dilakukan oleh kaum laki dengan memanjat pohon kelapa dengan berbekal pisau dan “ beruk ” di pinggang. Beruk sebagai fungsi untuk menampung “ tuak ”, dan kadang juga diganti menggunakan ember ukuran kecil.

Pohon kelapa yang dipilih untuk menghasilkan “ tuak ” akan jelas terlihat dengan membedakan bagian ranting tanpa diumbuhi buah kelapa. Sebagai penganti buah kelapa adalah hiasan “ beruk ” atau ember yang berfungsi untuk menampung “ tuak ” yang merembes.

Alat penyulingan arak yang kini sudah dimodifikasi menggunakan pipa alumunium dan tong plastik. Bahkan, ada juga dijumpai yang masih utuh dengan menggunakan bambu sebagai pipa penghubung dan guci sebagai penampung arak. Salah satunya, alat “Pengarakan” milik Mangku Kisid, 60 tahun, ia membuat arak sudah sejak lama dan turun temurun.

Hingga kini, alat “ Pengarakan” miliknya menjadi daya tarik kunjungan wisatawan asing di desa Lantang Katik, Sidemen. Banyak para pemandu wisata menghampiri tempat ini untuk mengenalakan proses pembuatan arak tradisional secara langsung.


Dibandingkan alat “ Pengarakan ”sekarang, alat yang dahulu mampu menghasilkan kadar alkohol yang bagus dan membutuhkan waktu lebih lama dibanding alat yang sekarang. Alat “Pengarakan” milik Mangku Kisid masih digunakan sebagai proses pembuatan arak secara tradisional yang mampu menghasilkan arak 10 liter dalam 80 liter “tuak” yang sudah difermentasi selama satu hari.

Bila sekarang proses penyulingan dilakukan sehari, dengan alat yang asli bisa menghabiskan waktu 1 hari satu malam untuk mendapatkan kadar alkohol yang baik. “ Dengan alat tradisional ini, selain mengenalkan proses pembuatan arak yang sudah hampir punah, kami juga mempertahankan warisan leluluhur kami, “ pungkas Mangku Kisid. [BT]



Oleh : baliterkini

Kirim Komentar Anda

Berita Terkait

Visitor

381659
Pengunjung hari ini : 2
Total pengunjung : 126053
Hits hari ini : 60
Total Hits : 381659
Pengunjung Online: 1