Senen, 25/09/2017 | Dibaca : 177 Kali
Ida Pangelingsir Agung Putra Sukahet
Pengalaman Pribadi: Kisah Letusan Gunung Agung 1963

Sumber Photo : bbbtimes.com


Klungkung, BaliTerkini.com - Saya ingin berceritera tentang pengalaman pribadi saya  selama setahun dekat dengan letusan Gunung Agung 1963 (18 Februari 1963 - 27 Januari 1964). 
 
Saat itu saya berusia 8 tahun, namun sampai saat ini saya masih sangat ingat dengan detail kejadian yang saya, keluarga dan masyarakat Klungkung alami bersama letusan Gunung Agung 1963. Saya dan masyarakat Klungkung begitu dekat dengan Letusan Gunung Agung saat itu karena jarak Kota Klungkung dengan Gunung Agung hanya 20 Km.
 
Rumah rumah dan Balai Banjar di Klungkung pun dipakai sebagai penampungan pengungsi. Saat itu pula sedang ada prosesi Upacara Terbesar Umat Hindu Bali yaitu Upacara "Eka Dasa Rudra" yang puncak upacaranya dilaksanakan tanggal 8 Maret 1963, dimana saat itu ribuan Umat Hindu Bali dari seluruh Bali bahkan  seluruh Indonesia datang dan hadir di Pura Besakih yang berada di kaki Gunung Agung. 
 
Saya , kakak dan beberapa saudara juga ikut ke Pura Besakih saat itu karena diajak oleh Ayah saya  ikut " ngayah" untuk Upacara itu di Pura Besakih, dimana selama proses Upacara , Gunung Agung tengah meletus, hujan abu , pasir dan krikil memang berjatuhan disekitar Pura Besakih. Kita semuanyapun akhirnya tahu dari informasi para Ahli bahwa ternyata letusan tahun 1963 itu adalah letusan yang terbesar atau terdahsyat dari letusan letusan Gunung Agung, yang mungkin  terjadi karena sebelumnya Gunung Agung beristirahat selama 120 tahun.
 
Selama setahun letusan itu semua masyarakat Bali bahkan yang ada di Klungkung dan Karangasem tidak ada yang memakai masker, bukan karena tidak mau memakai masker, tetapi karena memang tidak ada yang punya atau menyiapkan masker, namun anehnya tidak ada yang sakit karena abu letusan Gunung Agung tersebut. 
 
Hampir setiap hari kami menonton letusan Gunung Agung, mengalami hujan abu, dan menonton banjir lahar dingin yang terjadi di Sungai Unda dari ketinggian di pinggir barat Sungai Unda. Kami juga menyaksikan rumah rumah, pura pura yang tenggelam diurug batu dan pasir di desa  Tangkas dan Gunaksa Kabupaten Klungkung, begitu  juga  bangunan bangunan seperti rumah rumah, pura- pura, termasuk bangunan Gedong rumah kami dan Pura Keluarga Besar kami yaitu Pura Merajan Agung Sukahet di Jalan Yos Sudarso di Kota Klungkung. 
 
Hal ini terjadi sebenarnya bukan karena seringnya dan kuatnya gempa saat itu, melainkan lebih dikarenakan bangunan bangunan saat itu tidak ada yang memakai besi sebagai tulang, juga tidak dari bahan Beton, tidak dari pasir dan semen, melainkan hanya dari batu bata, dan bahkan dari Citakan (batu bata yang masih mentah belum dibakar), dan sebagai perekatnya hanyalah campuran kapur dengan tumbukan batu bata, bahkan semua bangunan pura memakai enceran tanah halus (nyanyad) sebagai perekat, termasuk juga bangunan Pura Besakih.
 
Ternyata juga Pura Besakih itu tetap selamat, Upacara "Eka Dasa Rudra" pun bisa berlangsung sampai selesai walaupun terselenggara dalam keadaan Gunung Agung meletus. Saat itu memang informasi perihal Gunung Meletus sangat minim bahkan hampir semua masyarakat tidak tahu dan tidak sadar akan bahaya  gunung meletus. Tidak ada tahapan status Waspada, Siaga dan Awas. Belum ada televisi, radio pun hanya radio kecil dan sangat sederhana. Sangat berbeda dengan sekarang, dimana informasi dan tahapan kesiagaan sudah disiarkan dan diberitakan setiap hari. Pemerintahpun sudah cepat mengantisipasi dan juga sudah siap.  
 
Oleh karena itu, kalau saya hubungkan dengan tanda tanda letusan saat ini maka saya punya kepercayaan ( tentunya para ahli yang bisa lebih menganalisa secara ilmiah) sebagai berikut : 
 
1. Letusan akan jauh lebih lemah bahkan kekuatan letusan saat ini akan kurang dari setengah kekuatan letusan 1963 mungkin karena waktu istirahat Gunung Agung sampai saat ini adalah 54 tahun.
 
2.Saat letusan hebat tahunh 1963 yang terdampak serius hanyalah setengah dari Kabupaten Karangasem, dan sebagian kecil dari Kabupaten Klungkung yaitu hanya beberapa wilayah disebelah timur Kali Unda, sedangkan Kabupaten/Kota lainnya di Bali tetap akan sangat aman dari letusan Gunung Agung.
Untuk saat inipun akan demikian adanya bahkan pasti akan jauh lebih aman daripada tahun 1963.
 
3. Penerbangan ke dan dari Bandara Ngurah Rai baik  penerbangan domestik maupun penerbangan Internasional tidak akan terganggu atau aman., mengingat posisi Gunung Agung dari Bandara (BLI VOR) adalah dalam Radial 20 derajat dengan jarak lurus 33 Mil atau 59 Km. Arah angin biasanya persis arah barat atau arah timur. Saat bulan Oktober depan angin mungkin sudah mulai berhembus dari barat ke timur. 
 
4. Sebagai umat Hindu Bali saya juga yakin Pura Besakih dan Desa Besakih akan tetap aman. 
 
5. Kewaspadaan , kehati hatian , dan tindakan tindakan pencegahan terjadinya korban memang tetap patut untuk didukung dan dilaksanakan.
 
6. Saya punya kepercayaan bahwa tidak akan ada korban jiwa sebagai akibat letusan Gunung Agung, kalau memang akhirnya meletus di tahun 2017 ini.
 
7. Saya juga percaya  para turis akan banyak yang datang ke Bali untuk menonton atraksi letusan Gunung Agung, mungkin dapat menonton dari kota Klungkung atau  Kintamani. Semoga.
 
8. Dalam keyakinan Agama Hindu, untuk mencapai keseimbangan alam maka Ida Batara Ciwa sebagai manifestasi Ida Sang Hyang Widhi melakukan perannya, sehingga bencana alam itu jangan dimaknai sebagai kutukan tetapi suatu bentuk "pralina" agar mencapai keseimbangan baru yang lebih baik. 
Tanah longsor atau banjir memang ulah manusia, karena keserakahan kita melakukan eksploitasi pada alam, sehinga kita pantas untuk diingatkan agar selalu menjagankelestarian alam, namun gempa bumi, tsumani atau gunung meletus adalah kekuasaaan Tuhan.
 
Yang  terpenting adalah bagaimana kita bersikap saat menghadapi musibah yaitu mengulurkan tangan kepada saudara-saudara kita yg membutuhkannya, karena musibah yang menimpa saudara kita meski berada jauh dari kita  adalah musibah kita semua, karena kita semua adalah satu. 
Tetaplah berdoa memohon agar kita semua tabah dan tegar nenjalani semuanya
Demikian pengalaman dan pandangan yang berpijak dari pengalaman ini saya sampaikan, semoga ada manfaatnya.
 
Klungkung, 25 September 2017. 
Hormat saya,
 
Ida Pangelingsir Agung Putra Sukahet.
Ketua Umum Asosiasi FKUB Indonesia.
 
*) Diambil dari bbbtimes.com


Oleh : baliterkini

Kirim Komentar Anda

Berita Terkait

Visitor

361842
Pengunjung hari ini : 78
Total pengunjung : 119304
Hits hari ini : 213
Total Hits : 361842
Pengunjung Online: 4