Rabu, 19/07/2017 | Dibaca : 384 Kali
Anak Agung Gde Waisnawa
Keris untuk Presiden

Sumber Photo : kompas.id


Gianyar, BaliTerkini.com - Anak Agung Gde Waisnawa Putra ingin menularkan tradisi keris kepada orang banyak. Maka, ia merancang satu keris mewah untuk presiden. Ia juga mencarikan pusaka keris untuk pura serta menghibahkan keris kepada ratusan pecalang dan ketua adat di Bali.
 
Pada 2011, tiga tahun sebelum masa jabatan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) berakhir, tebersit di benak Anak Agung Gde Waisnawa Putra membuat keris untuk presiden. “Waktu itu, sosok Jokowi belum muncul sebagai tokoh nasional, ia masih Wali Kota Solo. Tetapi, pasti 2014 RI bakal memiliki presiden baru lantaran SBY sudah dua kali menjabat,” tutur penglingsir (tetua) dari Puri Gianyar, Bali-garis keturunan raja Bali di zaman Kerajaan Gelgel-itu.
 
Keris yang dia rancang untuk presiden baru ini ditempa dan digarap empu muda dari Madura, Empu Jamil. Namanya “Keris Garuda Murti” atau Garuda yang berubah wujud. Keris dengan relief kepala garuda di gandhik (bagian depan bilah bawah), tetapi berbadan singa.
 
Anak Agung menceritakan makna keris itu. Menurut dia, Garuda adalah pengejawantahan sosok NKRI. Kala itu, NKRI sedang lemah, beberapa daerah ingin memerdekakan diri, Aceh dan Papua. “Pemerintah yang lemah (Garuda) perlu didukung kekuatan rakyat, yang diwujudkan dengan badan singa. Garuda Murti adalah perwujudan dua kekuatan menyatu,” ungkap Anak Agung, di Puri Anyar Saraswati, istana kecil bagian dari Puri Gianyar, Bali, awal Juli lalu.
 
Jadilah sebuah sosok keris kekar berkelok (luk) sembilan yang ia sebut sebagai keris yang bergaya Nusantara, perpaduan berbagai unsur daerah di Indonesia. “Perancangnya Bali, tempaan Madura. Sarung (warangka) Bali jenis kojongan dari bahan kayu cendana NTB, dihias kinatah (tatahan di bilah) emas oleh Sarju, perajin emas Yogyakarta, tetapi bahan emas asal Palembang. Mata Garuda terbuat dari intan Martapura,” katanya.
 
Sosok keseluruhan kerisnya gagah. Sarungnya berhiaskan relief sunggingan (teknik lukisan wayang) menggambarkan adegan Ramayana, saat Garuda Jatayu menyabung nyawa, menyelamatkan Dewi Sinta-istri Prabu Ramawijaya-dari cengkeraman raksasa Rahwana, penculiknya.
 
Akan tetapi, setelah keris bergagang emas Narasinga (awatara atau avatar Wisnu yang turun ke bumi sebagai penyelamat) ini selesai dibikin, keris itu tak berhasil diserahkan kepada presiden RI yang baru, Joko Widodo (2014), karena berbagai kendala. “Saya tak punya akses ke lembaga kepresidenan, juga ada ketakutan kalau-kalau presiden baru (kala itu) dituding suara miring dapat gratifikasi jika menerima keris ini,” kata Anak Agung.
 
Alhasil, keris mewah yang dibuat untuk presiden itu masih disimpan Anak Agung di Puri Anyar Saraswati di Gianyar, Bali.
 
Pelestarian budaya
 
Konsep pelestarian budaya keris bagi Anak Agung adalah bagaimana menularkan budaya warisan nenek moyang ini kepada orang sekitar. Apa yang dilakukannya? Sejak lebih dari satu dasawarsa, ia rajin “menarik balik” keris-keris Bali yang bertebaran di sejumlah tempat di Indonesia ataupun luar negeri. “Boleh dikata, 99 persen dari (ratusan) koleksi saya datang dari luar Bali. Banyak di antaranya dari Jakarta atau dari lelang keris luar negeri, di antaranya Belanda, Inggris, Jerman, dan Amerika,” tuturnya.
 
Tahun lalu, misalnya, ia menawar keris melalui lelang internet dari Israel. Namun, karena Indonesia tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel, keris berlekuk 19 dan lekuk 9 yang berhasil dibelinya dari sebuah balai lelang Israel itu dikirim ke Indonesia melalui London. “Perlu dua sampai tiga bulan untuk sampai di Indonesia,” katanya.
 
Harga per bilah relatif murah untuk sebuah keris pusaka, berkisar Rp 20 jutaan. Ternyata, keris luk 19 yang dibelinya dari Israel itu dulunya berasal dari Puri (Istana) Karangasem, Bali, puri tempat muasal istrinya, Anak Agung Ayu Sasih.
 
Dari Belanda dalam kurun tahun 2008-2010, Anak Agung membeli setidaknya tujuh keris. Pada 2008, ia mendapat keris lekuk 9 yang modelnya aneh, tidak pakem, dari Jerman. Apakah semuanya disimpan untuk koleksi sendiri? Ternyata tidak.
 
Rupanya, di Bali tidak semua pura (tempat ibadah agama Hindu) memiliki pratima (benda yang disakralkan) berbentuk keris. Padahal, setiap enam bulan sekali ada upacara adat yang namanya Tumpek Landep, atau menajamkan kembali keris-keris agar kembali “segar”.
 
Kini, beberapa anggota masyarakat dari pura di Gianyar, dan bahkan luar Gianyar, berdatangan kepada Anak Agung minta dicarikan keris untuk dijadikan pratima (di-sungsung atau disimpan) di pura mereka. Pada 2014, misalnya, sekitar 500 orang asal Bangli datang berjalan kaki menjemput pusaka di Puri Saraswati, tempat tinggal Anak Agung di Gianyar.
 
Orang sedesa, lengkap dengan gong, datang menjemput pusaka keris, yang semula didapat Anak Agung dari luar negeri.
 
“Ada kepuasan sendiri, keris yang saya dapat dari luar Bali itu dijadikan pratima dan di-sungsung (disimpan) kembali di pura-pura Bali, dijemput ratusan masyarakat dari desa adat. Bangga, bisa bermanfaat bagi orang banyak,” tutur Anak Agung.
 
Keris baru
 
Anak Agung tidak hanya mengembalikan keris-keris kuno dari luar ke Bali, tetapi juga menciptakan desain baru keris Bali. Tahun 2010, keris rancangannya yang digarap empu muda asal Surabaya, Empu Rudi Hartonodiningrat, bahkan tampil sebagai juara di acara Keris for the World di Jakarta.
 
Anak Agung juga khusus memesankan keris-keris baru untuk diberikan kepada kelompok masyarakat di Bali. Termasuk di antaranya untuk para pecalang (perangkat pengamanan desa yang ditunjuk secara adat) serta tokoh budaya dan pemuka adat. Sudah ratusan tokoh di Bali ia bikinkan keris.
 
“Maksudnya, agar mereka juga memiliki keris karena ternyata banyak di antara mereka yang hanya menyandang warangka saja, sementara bilah keris di dalamnya hanya logam putih (keris-kerisan),” ujar Anak Agung yang juga Penasihat Utama Pecalang Se-Kabupaten Gianyar. Ia telah menghibahkan sekitar 200 keris sejak tahun 2010 kepada para pecalang desa adat. Saat ini, ia telah memesan 100 bilah keris untuk pecalang lainnya.
 
Tahun 2013, Anak Agung juga menghibahkan 45 bilah keris kepada para bendesa (ketua adat) se-Kabupaten Gianyar dan beberapa keris untuk delapan tokoh pelestari budaya Bali di Provinsi Bali.
 
Yang paling menarik, kata Anak Agung, belakangan ada anak-anak muda generasi modern di Bali yang khusus memesan keris untuk dipakai menikah. Sudah ada empat pasang calon pengantin yang memesan kepadanya. “Prinsipnya, dalam perkawinan di Bali, orang nikah harus pakai keris sungguhan. Pernikahan itu sakral. Kalau waktu menikah tidak pakai keris asli, orang Bali mengatakan mereka kawin main-main,” ujarnya.
 
Sosok Anak Agung sebagai pelestari budaya Bali membuat dirinya dikenal luas di kalangan perkerisan nasional. Di Bali, ia sering mengisi ceramah tentang keris dan mendatangi pura yang memiliki pratima keris, tetapi tidak pernah memelihara bahkan takut menyentuh keris pusaka mereka. Banyak di antara pratima keris yang tersimpan di pura tanpa sarung lantaran sarung yang biasa terbuat dengan lapisan emas sudah lama hilang atau dijual.
 
Pratima keris yang kurang terawat itu kemudian dibikinkan sarung atau warangka baru oleh Anak Agung untuk di-sungsung-kan kembali menjadi pusaka pura. [Sumber: kompas.id]


Oleh : baliterkini

Kirim Komentar Anda

Berita Terkait

Visitor

381619
Pengunjung hari ini : 2
Total pengunjung : 126053
Hits hari ini : 20
Total Hits : 381619
Pengunjung Online: 2