Selasa, 14/02/2017 | Dibaca : 275 Kali
Simbol Pahit Manis Kehidupan Krama Desa Pakraman Suwug
Tradisi Ngelawar Intaran

Sumber Photo : nusabali.com


Singaraja, BaliTerkini.com – Desa Pakraman Suwug, Kecamatan Sawan Buleleng memiliki beragam tradisi yang cukup unik, salah satunya tradisi ngelawar intaran. Lawar yang kita kenal biasanya menggunakan bahan seperti daging babi yang dicincang bercampur parutan kelapa muda di mix dengan dengan darah serta base genep (bumbu bali lengkap) sebagai pelengkap cita rasa. 
 
Namun lawar intaran disajikan dalam bentuk berbeda.Lawar intaran memang tampilannya terlihat sederhana. Dalam menu itu, terdapat nasi yang ditakar menggunakan mangkok berbentuk bulat diletakkan di tengah-tengah hidangan yang hanya beralaskan daun pisang dilengkapi dengan sambel serondeng, kacang-kacanagn, ikan teri goreng, telur asin, garam, sambal pangi, dan juga lekesan dan kwangen (sarana upacara) yang diatur melingkari nasi.
 
Tradisi di desa pakraman itu merupakan warisan budaya leluhur yang dilaksanakan setiap tahun sekali, tepatnya pada piodalan di Pura Desa Pakraman Suwug, yang merupakan rangkaian upacara Matata Linggih yang jatuh pada Purnama Kaulu, Saniscara Paing Ukur.
 
Pantauan di lokasi, puluhan krama saye sudah mulai berkumpul sejak pagi. Mereka mulai menyiapkan sejumlah adonan lawar dan masakan yang lainnya sebagai sarana pelengkap tradisi ngelawar Intaran. Nampak pula beberapa krama sedang menyiapkan upakara pembersihan diri, dan natab pawintenan saraswati sebagai proses penggantian sekaa petang dasa.
 
Kelian Desa Pakraman Suwug, I Wayan Nawa, ditemui di jeroan Pura Desa Suwug, mengatakan bahwa tradisi Ngelawar Intaran itu sudah ada sejak ratusan tahun silam. Awal mula pelaksanaan upacara Ngelawar Intaran itu bermula saat empat puluh warga Suwug, yang kini disebut sebagai sekaa petang dasa.
 
“Sekaa petang dasa kala itu, melarikan diri dari kerajaan Menasa yang berlokasi di Desa Sinabun, daerah perbatasan sebelah Utara Desa Suwug,” ucap Nawa. Sabtu, 11 Januari 2017.
 
Pelarian itu dikarenakan adanya selisih paham tokoh, sehingga sekaa petang dasa memutuskan untuk hijrah ke arah menuju bukit. Hingga akhirnya mereka mulai membabat hutan dan menatanya menjadi desa baru yang kini dikenal dengan Desa Suwug.
 
“Dalam perjalanannya membangun desa ini, mereka mengalami sejumlah halangan dan rintangan, namun semuanya dapat diatasi hingga sukses mendirikan sebuah desa baru,” ujar Nawa.
 
Setelah berhasil, mereka lalu mengikrarkan diri dan melakukan sumpah dengan membuat hidangan lawar intaran sebagai perlambangan pahit manis kehidupan mereka selama membangun Desa Suwug.
 
Dikatakan Nawa bahwa nasi yang dihidangkan berbentuk bulat merupakan simbol kebulatan tekat sekaa petang dasa yang kini sudah berkembang menjadi 1.190 KK. Selanjutnya di pinggir nasi itu juga ditata lawar intaran yang merupakan menu utama. Lawar intaran ini nampak sama seperti lawar biasanya, hanya saja tidak menggunakan daging dan darah. Sedangkan bumbu dan proses pembuatan sama dengan lawar pada umumnya.
 
“Lawar intaran ini saat dikecapi menghadirkan rasa yang khas, pahit dari daun intaran bercampur manis dari air parutan kelapa melekat dilidah. Dalam satu hidangan, mereka yang menyantapnya dapat merasakan seluruh elemen rasa, baik manis, asam, asin, pahit, sepet,” ungkapnya.
 
Hidangan lawar intaran itu dibuat oleh sekaa petang dasa yang sedang saye. Biasanya mereka akan menyantap hidangan tersebut sebelum penyerahan saye sekaa petang dasa yang bergantian setiap tahunnya.
 
“Ribuan KK itu akan dibagi, masing-masing 40 KK dan bergilir untuk menjadi sekaa petang dasa pada setiap tahun. Pergantiannya dilakukan saat piodalan di Pura Desa,” imbuh dia.
 
Begitu hidangan lawar intaran selesai, selanjutnya mereka akan naik ke bale agung yang ada di jaba sisi pura,  sebelum acara penyerahan saye kekaa petang dasa dilakukan. Sebelum menyantap lawar intaran mereka duduk berjejer melingkat di bale agung dan mengikuti seluruh rangkaian upacara. Hidangan lawar itaran baru bisa disantap detelah jero mangku Pura Desa selesai menghaturkannya di semua palinggih.
 
Saat duduk di bale agung, sekaa petang dasa juga diatur gerak dan hingga cara duduknya. Jika sudah naik ke bale agung tidak diperkenankan untuk turun hingga prosesi upacara selesai. Hal tersebut merupakan aturan dalam matata linggih (tata krama, red). Hidangan yang sudah disediakan pun harus dihabiskan, kalau tidak bisa dikenakan sanksi, karena dianggap melecehkan tradisi.
 
Setelah makan hidangan lawar selesai rangkaian upacara dilanjukan dengan pembacaan awig –awig desa. Jika ada tambahan dan pengurangan disebut akan dirapatkan kembali. Acara serah terima saye sekaa petang dasa, baru akan dilaksanakan pada tengah malam hingga dini hari. krama saye lama saat itu mengakhir tugasnya menjadi barisan utama disetiap upacara yang dilaksanakan di Kahyangan Desa, selama setahun. [balipuspanews.com/ BTcom]


Oleh : baliterkini

Kirim Komentar Anda

Berita Terkait

Visitor

312305
Pengunjung hari ini : 17
Total pengunjung : 101344
Hits hari ini : 54
Total Hits : 312305
Pengunjung Online: 2