Rabu, 01/06/2016 | Dibaca : 1086 Kali
Digemari Masyarakat Lokal Karena Rasanya
Sueg, Jajanan Kampung di Penglipuran

Sumber Photo : baliterkini.com


Bangli, Baliterkini.com - Ubi yang selalu identik dengan makanan desa karena kerap ditemukan dan disajikan warga pedesaaan sudah tak asing. Biasanya disajikan dalam bentuk peneman kopi atau teh. Namun ada varietas lain yang jarang dikonsumsi oleh kebanyakan orang. Dari berbagai jenis varietas ubi, ada salah satu jenis ubi yang  jarang dikonsumsi. Untuk bisa dikonsumsi sebagai kudapan, dibutuhkan keahlian khusus untuk mengolahnya, sehingga layak menjadi jajanan khas Bali.

Nama tanaman ini adalah Sueg, dimana ubinya bisa diolah menjadi kue khas Bali dan tidak kalah lezat dengan ubi jenis yang lumrah diolah sebagai panganan. Sueg bisa diolah menjadi jajajan setelah melalui beberapa proses. Jenis ubi satu ini memang berbeda dengan ubi jenis lainnya. Tidak semua jenis ubi Sueg bisa dikonsumsi, bahkan malahan ada yang beracun. Jenis jajanan ini pun hanya bisa kita peroleh dalam setahun sekali di setiap musimnya.

Di Desa Penglipuran, Bangli, yang dikenal dengan memiliki keindahan arsitektur bangunan khas di setiap pintu masuk,ada sosok yang intens tiap tahunnya mengolah ubi Sueg. Ni Wayan Puspawati, adalah perempuan Penglipuran yang belum lama ditemui , dengan berkeliling memasuki rumah- rumah tetangganya. Ia bersama anak lelakinya memproses ubi Sueg ini dari sebuah rumah diantara deretan rumah khas tradisional yang memiliki lahan tegalan di bagian belakang rumah.

Ketika ditemui belum lama ini, ia baru saja beranjak dari pintu rumah bergegas dibawah rintik hujan.  Ia menempati rumah di kawasan Desa Wisata Penglipuran, tidak jauh dari Karang Memadu di deretan paling selatan.  Dari sini ia menjajakan jajanan Sueg dari rumah kerumah, seolah sudah akrab dengan para pembelinya. Wisatawan yang kebetulan berkunjung pun dibuat penasaran, dan bahkan turut mencicipinya.

Dalam satu nampan ia menata rapi jajanannya yang masih hangat, memiliki ciri khas berupa taburan parutan kelapa dipermukaan kue tersebut. Uang dari hasil jualan lantas diselipkan dibawah jajanan ini. Makin lama melangkah, receh dan uang kertas akan makin banyak terkumpul dibawah jajanan yang tertata.

Menurut dia, Sueg merupakan umbi yang bisa diolah menjadi jajanan enak. Sueg tumbuh liar di kebun dan hanya bisa dipanen setahun sekali. “ Untuk mengetahui bisa dipanen, pohon Sueg itu harus mati dulu dengan sendirinya. Baru bisa diambil umbinya, “ ujarnya.  Uniknya, tumbuhan ini mampu menghasilkan ubi yang lebih besar setelah ditanam ulang dari pohon yang telah gugur dengan cara membalikan posisi umbi yang sebelumya dipanen. Hasilnya akan dua kali lipat lebih besar, namun baru bisa dipanen sekali sepanjang tahun.

Ni Wayan Puspawati menambahkan untuk menjadikan jajanan, Ubi Sueg melalui beberapa proses sebelum tampil sebagai jajanan yang menggugah selera. Setelah diambil dari dalam tanah, ubi lalu dibersihkan dan dipotong-potong sesuai selera. Selanjutnya dikukus beberapa menit hingga terlihat empuk dan matang. Tahap akhir ditaburi parutan kelapa dan ditambah gula aren cair atau bisa juga dengan gula pasir sebagi pemanis. “ Sueg paling enak dimakan setelah matang, karena masih hangat- hangat, “ imbuhnya.

Selain memiliki rasa yang enak, Sueg juga memiliki “tantu” atau anti terhadap gangguan ternak babi yang hidup disekitaran tanaman. Karena tanamannya bersentuhan langsung dengan babi, maka dipercaya Ubi Sueg akan membuat gatal bagi yang mengkonsumsinya. Tanaman Sueg bisa tersebar di Bali, namun tidak semua bisa dikonsumsi. Khusus batang berwarna keunguan, sangat dianjurkan untuk tidak mengolah dijadikan jajanan apapun.  
Jajanan Sueg, jajanan musiman ini akan bisa dijumpai di pertengahan tahun antara Juni hingga Juli.

Pengunjung  yang kebetulan berada di kawasan desa wisata Penglipuran bisa beruntung ketemu dengan pedagangnya yang biasanya menjajakan mulai  beranjak selepas pagi.  Mereka yang berjualan dengan mengusung nampan di kepala dari rumah kerumah, menyambangi setiap penghuni rumah yang ada di kawasan desa Penglipuran. Satu porsi cukup dengan Rp 2.000 yang dikemas dalam daun pisang. Dengan menikmati jajanan khas ini, kunjungan di desa Penglipuran akan semakin lengkap, berada di sudut desa yang masih terjaga keasriannya, sambil menghirup udara segar di ruang terbuka. [BTcom]



Oleh : baliterkini

Kirim Komentar Anda

Berita Terkait

Visitor

361771
Pengunjung hari ini : 77
Total pengunjung : 119303
Hits hari ini : 142
Total Hits : 361771
Pengunjung Online: 4