Sabtu, 14/05/2016 | Dibaca : 1378 Kali
Terdapat Bahasa Bilingual yaitu Huruf Pra-Nagari
Prasasti Blanjong, Tugu Tanda Kemenangan di Sanur

Sumber Photo : baliterkini.com


Denpasar, Baliterkini.com - Kawasan Sanur bukan saja sebagai Daerah Tujuan Wisata (DTW) khusus tempat pelancongan terkenal di pulau Bali. Sanur sudah menjadi pusat pariwisata dibalik tumbuh berkembangnya hotel, resort dan villa. Namun demikian, nama daerah Belanjong sendiri dahulunya hanyalah daerah pesisir di kawasan Sanur. Belanjong berasal dari dua kata yakni Belahan dan Ngenjung yang memiliki arti perahu pecah dari sebuah pelayaran oleh kapal Belanda.

Di kawasan ini, terdapat temuan penting berupa Prasasti yang memuat sejarah tertulis tertua tentang pulau Bali. Bentuk Prasasti ini sangat unik, berbentuk berupa pilar batu setinggi 177 cm dan bergaris tengah 62 cm. “ Prasasti ini bernama tugu tanda kemenangan berbentuk silendris. Memuat angka 913 Masehi, menyebutkan nama Raja Sri  Kesari Warmadewa “ , ungkap Jero Mangku Mawa, 58 tahun, belum lama ini.

Jero Mangku Mawa juga sebagai juru kunci di tempat ini, ia kerap menemani para pengunjung yang datang. Dari penuturannya, bahwa Prasasti Blanjong memuat berupa tulisan yang menggunakan bahasa bilingual yaitu huruf Pra-Nagari dengan menggunakan bahasa Bali Kuno, dan huruf Kawi dengan menggunakan bahasa Sansekerta. Berdasarkan isi prasasti tersebut dipastikan prasasti Blanjong dikukuhkan pada tahun 835 Caka (913 M) atas Raja Adipatih Sri Kesari Warmadewa sebagai tanda kemenangan.

Kini, Prasasti Blanjong keberadaannya cukup terjaga. Berada ditengah sebuah ruang kaca yang luasnya di tengah lahan 9 meter persegi. Dengan adanya dinding kaca ini, pengunjung bisa dengan leluasa melihat secara dekat bentuk dari prasasti ini. Segala kewenangan tetap ada pada peran dari Jero Mangku Mawa yang setiap hari bertugas menjaga dari kediamannya yang tidak jauh dari keberadaan prasasti tersebut. Jero Mangku Mawa bersama Istri berada tidak jauh dari keberadaan prasasti ini sembari menjaga warung.

Di tempat ini pengunjung bisa diperbolehkan menyentuh bahkan ikut masuk ke dalam rak kaca raksasa dengan melepas alas kaki. Dari balik kain yang mengitari parasasti ini Anda bisa dengan samar samar melihat guratan tulisan yang menerangkan dari isi Prasasti Balanjong. “ Untuk tetap menjaga kondisi dari keberadaan prasasti ini, pengunjung selalu saya temani, meskipun demikian alas kaki harus dilepas, “ jelas Jero Mangku Mawa.

Sebelum masuk, seperti biasa ia mengucapkan salam Om swastiastu sembari kedua telapak tangan ada di dada, salam ini ia ucapkan tepat di depan pintu masuk.Setiap harinya, Parasasti Balnjong juga didatangi warga sekitar untuk melakukan persembahyangan dengan menghaturkan canang sari. Mereka kebanyakan warga sekitar dan juga para pelaku uasa yang membuka usanya di sekitar Blanjong, “ Mereka banyak memohon keselamatan serta agar murah rejeki disini, “ imbuh Jero Mangku Mawa.

Prasasti Blanjong juga berada dekat dengan Pura bernama Pura Dalem Blanjong. Di Pura tersebut juga dapat ditemukan beberapa arca peninggalan dari pemerintahan Sri Kesari Warmadewa. Dalam pemeliharaannya, Prasasti Blanjong sempat mengalami beberapa kali pemugaran, yakni pada tahun 1961, dan kedua pada tahun 1988.

Sejauh ini, Prasasti Blanjong yang masuk sebagai Kawasan Cagar Budaya dari Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata telah banyak dikunjungi oleh wisatawan. Berdasarkan buku kunjungan, wisatawan yang datang berasal dari USA, Eropa, Asia, bahkan South Africa. Kini jejak–jejak pemerintah­an Sri Kesari Warmadewa ini sudah terawat cukup apik.

Dilindungi pula oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Wilayah Kerja Provinsi Bali, NTT dan NTB. Tepat di sebe­lah kiri lemari kaca terdapat sebuah meja yang di atasnya tampak se­buah buku kunjungan. [BT]



Oleh : baliterkini

Kirim Komentar Anda

Berita Terkait

Visitor

312342
Pengunjung hari ini : 18
Total pengunjung : 101345
Hits hari ini : 91
Total Hits : 312342
Pengunjung Online: 4