Selasa, 08/12/2015 | Dibaca : 13208 Kali
Putu Agus Edi Darmawan
Favoritnya King Kobra, Sudah Berkali-Kali Digigit

Sumber Photo : baliterkini.com


Jembrana, Baliterkini.com - Ular merupakan reptil tak berkaki dan bertubuh panjang yang digolongkan dalam reptil bersisik ( Squamata ). Bagi I Putu Agus Edi Darmawan, ular sudah menjadi bagian dari hidupnya yang tak lepas dari aktifitas petualangan di alam liar. Kecintaannya terhadap ular menjadi tantangan dalam menjaga kedudukan ular sebagai rantai makanan  yang memiliki peran dalam mahluk hidup.

Untuk mejanjalani ini semua tidaklah mudah, butuh waktu bertahun – tahun lamanya. Mengenal serta menguasai karakter ular dipelajarinya secara konsisten melalui kondisi alam di Bali. Sesuatu yang jarang ditemukan oleh kebanyakan orang, dimana ular dianggap reptil yang berbahaya sekaligus menjijikan. Justru hal ini dilakukannya untuk meng-edukasi masyarakat agar jangan membasmi ular secara sembarangan.

Berbekal pengalamannya ini, berbagai jenis ular sudah pernah dia temukan. Mulai dari jenis ular dengan tingkat bisa tinggi, sedang , maupun tak berbisa. Sangatlah mudah kalau sudah terjun langsung dan menguasai karakter ular dari pengalaman yang dia dapatkan. Karena berperan dalam menjaga suatu ekosistem, upaya untuk menggali keberadaan ular terus dia kembangkan. Tekad dalam dirinya mencintai aneka satwa sebagaimana mencintai mahluk hidup di muka bumi ini.

“ Sebagaimana menyelematkan keberadaan ular, sangatlah diperlukan peran masyarakat untuk ikut menjaga keberadaan ular agar jangan sampai punah, sehingga rantai makanan bisa berjalan sesuai fungsinya. Upaya ini terus saya lakukan sekaligus sebagai wahana untuk menggali karakter dan keberadaan ular di Bali, “ ungkap pria kelahiran 35 tahun yang silam.

Seiring waktu dan pengalamannya, keberadaan ular Kobra di Bali bukanlah sesuatu yang berbahaya baginya. Ular Kobra dengan jenis ular berbisa dan mampu membunuh manusia menarik baginya untuk diketahui. Melalui pengalaman serta berbagai sumber yang diperolehnya membawa dirinya untuk lebih dekat dengan jenis ular satu ini.

“ Ular Kobra hanya menyerang manusia bila diserang terlebih dahulu atau mereka sudah merasa terancam, “ ujar Edi, pria asal Desa Gumbrih, Jembrana.

Meski demikian, diakuinya lagi bahwa tidak semua gigitan kobra berakhir dengan kematian, jika sudah dilakukan penanganan yang tepat segala sesuatunya dapat dicegah.Menjadikan ular Kobra selayaknya sahabat dalam hidupnya tidaklah mudah dilakukan. Butuh waktu bertahun – tahun lamanya agar karakter ular mudah diketahui. Melalui pengalaman di alam sekaligus sumber – sumber yang diperolehnya menjadikan dirinya cukup matang untuk mengenal ular kobra.

“ Saya mengenal King Kobra sudah 15 tahun. Pertama melihatnya di Banjar Senguan, Gumbrih. Pertama itu masih takut karena belum menguasai, lantas saya belajar melalui video, “ ujar Edi atau akrab dipanggil Edi Kobra.

Selama 15 tahun berkecimpung dalam permainan King Kobra tidaklah mudah dilakukan. Ini mesti melalui prose sebelum akhirnya bisa yakin untuk memegagg dan menangkapnya langsung. Waktu 5 tahun di saat pertama kali mengenal King Kobra merupakan waktu dimana proses awal mempelajari berbagai karakter dan habitat ular tersebut. Keberadaan King Kobra di Bali membuatnya penasaran untuk mendalami lebih jauh lagi.

“ Sudah lewat 5 tahun artinya 95 persen sudah menguasai karakter King Kobra, sekarang tinggal pemantapan saja, “ tambahnya.  Dirinya selain berburu King Kobra di Bali Barat juga pernah dipanggil untuk Rescue ke wilayah Badung Utara.

Atas latar belakang kecintaannya terhadap satwa, baik itu ular maupun satwa lainnya. Berbagai informasi dia dapatkan melalui masyarakat. Sehingga tak jarang menerima panggilan dari masyarakat untuk membantu menangkap keberadaan ular yang menggangu kehidupan manusia. Masyarakat yang telah mengenalnya, cukup dengan menghubungi nomor telepon miliknya yang sudah menyebar luas. Sehingga kapanpun masyarakat menemukan ular, dia sanggup untuk dipanggil kapan saja.

Menjemput ular dengan tekad menyelamatkan adalah satu misi yang dia emban hingga saat ini. Hampir di seluruh wilayah di Bali pernah dia sambangi atas laporan masyarakat tentang keberadaan ular kobra di Bali. Bali Barat diakuinya sebagai tempat pertama ditemukannya ular jenis Kobra. Dari pengalamannya ini, sehingga dia banyak mempelajari keberadaan dan habitat ular kobra. Maka untuk menggugah kesadaran masyarakat agar turut peduli menyelamatkan keberadan ular kobra ini, dirinya sanggup memberikan upah pengganti sebagai bentuk ucapan terima kasih atas informasi yang telah diberikan.

“ Karena saking kasihan, saya berani memberikan uang seratus sampai dua ratus ribu atas informasi diberikan, ini semata- mata sebagai bentuk ke-relawanan saya, “ kata Edi.

Menurut Edi, ular King Kobra punya tempat bersarang di bawah batang bambu. Dan tidak semua bambu bisa ditempati. Ada beberapa ciri pohon bambu yang khusus sering disukai sebagai tempat bertelor. Yakni suhu desitarnya punya daun kering didukung pula dengan suplai sinar yang mencukip bagi proses bersarang.

 “ Biasanya mereka dekat dengan sungai, tempatnya tidak lembab tidak juga kering, “ pungkasnya.

Perkembangbiakan King Kobra

Keberadaan ular King Kobra di Bali, menurutnya  paling banyak ada di Bali Tengah. Hal ini dia rasakan atas bentuk laporan dari masyarakat yang lebih banyak  datang dari wilayah ini. Dia mengganggap daerah inilah sebagai salah satu sumber terbanyak keberadaan King Kobra selain pertama kali dia temukan di Desa Gumbrih, Jembrana.

“ Anggaplah sekarang ini pusatnya paling banyak di Bali Tengah, sekitar wilayah Gunung Batu Karu, karena lebih banyak informasi datang dari sana, “ terang Edi.

Sepanjang ini, untuk menemukan sarang ular kobra masih dirasa gampang dia temukan. Setelah sudah dirasakan cukup mengenal dan menguasai betul karakter King Kobra dirasa mempermudah kemana pun petualannya untuk menemukan sarang Kobra. Jika dulu, pertama kali mengenal King Kobra di desa tempatnya tinggal adalah awal dimana dia menemukan sepasang induk sedang menjaga telor. Menemukan sepasang induk yang telah menjaga sarang adalah hal yang jarang ditemukan.

“ Sebenarnya momen yang paling jarang itu menemukan sepasang King Kobra sedang menjaga sarangnya yang berisi telor, “ jelasnya.

Selama 15 tahun berpetualang menemukan keberadan King Kobra, dirinya baru 4 kali menemukan secara kebetulan sepasang induk menjaga sarangnya. Untuk menambah jumlah populasi King Kobra, upaya perkembangbiakan yang didapat dari Rescue ( penyelamatan ) telah dia lakukan baik itu di rumahnya sendiri. Setidaknya untuk saat ini, di rumahnya terdapat 4 kandang ular kobra, dan dua diantara sedang bertelor dan menunggu penetasan yang butuh waktu 60 hari.

Ular tangkarannya ini bersumber dari berbagai cara, selain melalui Rescue ketika dalamkondisi hamil juga dikembangkan melalui perkawinan. Sehingga dia paham fase bertelor yang dilakukan oleh King Kobra yang membutuhkan waktu sampai 60 hari sebelum akhirnya menetas menghasilkan anak King Kobra, “ King Kobra di saat mereka bertelor jumlahnya terus bertambah dalam tiap fasenya,  pertama rata - rata jumlah telornya 20-23, tahun kedua 28-33, dan tahun ketiga 40-45 jumlah, “ terang Edi.

Setelah dirasa cukup waktunya untuk tumbuh dan berkembang, kemudian tinggal menunggu waktu pelepasan di alam liar. Pelepasan dilakukan sebagian besar di wilayah hutan di Bali Barat berkoordinasi dengan badan pelestari satwa dan juga Bali Rescue Reptile. Hal ini telah berjalan sehingga diyakini bisa menjaga keberadaan jumlah populasi King Kobra.

Dirinya pun berharap agar mesyarakat nantinya bisa turut menjaga keberadaan Ular Kobra ini. Dan jika nantinya menemukan keberadaan King Kobra atau jenis ular lainnya yang bisa menggangu keberadaan masayarakat bisa mneghunbunginya melalui perhimpunan lembaga swadaya di Bali Reptile Rescue yang sudah bisa diakses di internet. Dirinya memberikan anjuran, ular akan merasa terganggu jiksa sudah dianggau oleh manusia.

Edi yang juga  salah satu anggota dari Bali Reptile Rescue berbagi pengalaman selama menangani rescue maupun berpetualang menyelematakan ular yang sakit. Kendati demikian, hal terburuk pernah dia lakukan. Yakni dua kali pernah masuk rumah sakit akibat gigitan maupun serangan dari ular yang dimasukan dalam karung. Hal ini baginya sudah bagian dari resiko yang bersentuhan langsung dengan hewan apa pun.

“ Jika sudah merasa digigit, antisipasi dengan cara melakukan pertolongan pertama dengen perban bagian luka , yang penting untuk memperlambat racun, selanjutnya ke penanganan medis, “ pungkas Edi yang pernah aksinya tayang dalam penangkapan King Kobra di Bali Barat  dalam tayangan Berburu di salah satu televisi swasta.  [BT]



Oleh : baliterkini

Kirim Komentar Anda

Berita Terkait

Visitor

336757
Pengunjung hari ini : 91
Total pengunjung : 109893
Hits hari ini : 601
Total Hits : 336757
Pengunjung Online: 5