


Karangasem, Bali Terkini- Sebuah video yang memperlihatkan keributan di Puskesmas Bebandem, Karangasem, sempat ramai di media sosial.

Namun, beberapa hari setelah kejadian itu viral, perekam video yang terlibat dalam insiden tersebut akhirnya menyampaikan permintaan maaf secara terbuka.
Pria bernama I Wayan Supartiawan mengakui kesalahannya telah merekam sekaligus mengunggah video saat dirinya marah kepada tenaga kesehatan (nakes).
Permintaan maaf itu disampaikan dengan didampingi aparat kepolisian serta pihak puskesmas.
“Saya meminta maaf sebesar-besarnya kepada pihak Puskesmas Bebandem, khususnya nakes yang bertugas. Saya menyadari kesalahan saya dan berharap permohonan maaf ini bisa diterima,” ujarnya.
Sebelumnya, video tersebut memperlihatkan Supartiawan meluapkan emosi karena tidak bisa membayar layanan kesehatan menggunakan QRIS.
Dalam rekaman yang beredar, ia terlihat berbicara dengan nada tinggi, bahkan sempat menggebrak meja sambil membandingkan layanan puskesmas dengan warung.
Padahal, menurut penjelasan pihak puskesmas, saat itu sistem pembayaran non-tunai memang belum tersedia.

Kepala Puskesmas Bebandem, dr. Made Sudarba, menjelaskan kejadian bermula ketika keluarga tersebut datang membawa seorang anak yang dalam kondisi lemas usai menonton ogoh-ogoh.
Setelah diperiksa, kondisi pasien diduga akibat telat makan.
Setelah mendapatkan pelayanan, keluarga pasien memilih jalur umum karena tidak membawa kartu BPJS.
Persoalan muncul saat proses pembayaran, karena pihak keluarga tidak membawa uang tunai dan meminta menggunakan QRIS.
“Sudah sempat bilang mau ke ATM, tapi kembali lagi dan tetap memaksa bayar non-tunai. Dari situ terjadi kesalahpahaman,” jelasnya.
Ia juga menyayangkan cara penyampaian keluhan yang dinilai tidak tepat, apalagi jarak rumah pasien disebut tidak jauh dari puskesmas.
Pihaknya memastikan ke depan akan berupaya menghadirkan sistem pembayaran non-tunai melalui mekanisme BLUD.
Sementara itu, Bupati Karangasem, I Gusti Putu Parwata, turut angkat bicara atas kejadian tersebut.
Ia mengapresiasi sikap tenaga kesehatan yang tetap melayani dengan sabar di tengah situasi yang memanas.
Ia juga mengingatkan masyarakat agar tetap menghormati tenaga kesehatan demi menjaga kenyamanan dan kelancaran pelayanan.
Kasus ini menjadi pengingat bahwa di tengah keterbatasan layanan, komunikasi yang baik tetap jadi kunci utama agar tidak berujung konflik. (dkk)
