Ogoh-Ogoh “Polo Mbuh”, Kritik Keras Pemuda Denpasar atas Pembalakan Liar

Bagikan

Denpasar, Bali Terkini – Maraknya aksi pembalakan liar yang berujung pada bencana ekologis mendapat sorotan tajam dari kalangan pemuda di Kota Denpasar. Lewat karya seni ogoh-ogoh bertajuk “Polo Mbuh” (Otak Kosong), Sekaa Teruna (ST) Seterima Banjar Semaga Penatih melayangkan kritik sosial yang lugas terhadap praktik perusakan hutan demi keuntungan sesaat.

Ogoh-ogoh tersebut menampilkan sosok burung gagak raksasa sebagai simbol pencabut nyawa yang tengah mengeksekusi manusia yang dikonotasikan sebagai pelaku pembalak liar. Visual yang dramatis diperkuat dengan sentuhan teknik gerak robotik pada bagian sayap dan kepala, menghadirkan kesan “hidup” sekaligus mencekam. Namun, lebih dari sekadar atraksi visual, karya ini menyimpan pesan moral yang tajam.

Kreator ogoh-ogoh, I Wayan Wahyudi, menyebut “Polo Mbuh” sebagai simbol pikiran yang kehilangan kesadaran. Manusia yang terjebak dalam keserakahan digambarkan menutup mata terhadap keseimbangan alam. Hutan ditebang tanpa kendali, sumber air dirusak, dan daya dukung lingkungan diabaikan. “Dampaknya bukan sekadar kerusakan ekosistem, melainkan bencana nyata yang dirasakan masyarakat luas,” jelas Wahyudi, Minggu (16/2/2026) di wantilan banjar Semaga Penatih.

Lanjutjya, pesan yang diangkat tidak berhenti pada kritik terhadap pelaku lapangan. “Polo Mbuh” juga menyoroti persoalan sistemik: lemahnya pengawasan, kompromi terhadap kepentingan ekonomi, serta minimnya ketegasan hukum dalam menindak kejahatan lingkungan. Dalam konteks ini, pembalakan liar bukan hanya soal individu serakah, tetapi juga tentang tata kelola yang longgar dan pembiaran yang berulang.

Secara filosofis, ogoh-ogoh ini mengusung konsep keseimbangan antara Bhuana Alit dan Bhuana Agung harmoni antara manusia dan alam semesta. Ketika pikiran rusak, keseimbangan terganggu. Kerusakan alam pada akhirnya menjadi cerminan dari kerusakan cara berpikir. Dalam perspektif inilah, “Polo Mbuh” memaknai pembalakan liar sebagai bentuk “Ulah Pati” atau tindakan bunuh diri ekologis.

Menurutnya, dengan kehadiran ogoh-ogoh ini yang akan diarak oleh para pemuda dan pemudi di malam pengerupukan nanti menjadi momentum menggugah kesadaran kita semua. “Seni tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai suara nurani masyarakat, serta edukasi,” tegasnya.

Melalui “Polo Mbuh”, pemuda ST Seterima Denpasar menegaskan bahwa keserakahan tidak boleh dikompromi. Termasuk juga pembangunan dan alih fungsu lahan di Denpasar yang mengabaikan daya dukung lingkungan hanya akan mewariskan krisis bagi generasi berikutnya. Kritik ini menjadi pengingat jika pola pikir tidak dibenahi, maka bencana bukan lagi kemungkinan melainkan sebuah keniscayaan. (Dev)


Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *