Cegah Kerusakan Alam, Desa Wisata Pengelipuran Batasi Jumlah Kunjungan

Bagikan

Bangli, Bali Terkini – Ditengah kian membludaknya tingkat kunjungan wisatawan ke objek Desa Wisata Penglipuran, Bangli, justru ada kekhawatiran mengganggu keseimbangan alam, sosial dan budaya di desa setempat. Oleh sebab itu, Desa yang dinobatkan sebagai desa terbersih ketiga dunia ini, pada tahun 2025 terpaksa menerapkan pembatasan kunjungan wisatawan hanya 2.000 orang per hari. Sementara, bercermin dari tahun 2024, kunjungan ke desa wisata Penglipuran, mencapai 3.000 orang per hari.

Hal ini diakui General Manager Objek Wisata Penglipuran, I Wayan Sumiarsa, Jumat (19/12/2025). Kata dia, jika tidak dilakukan pembatasan, maka ditakutkan objek wisata berbasis alam ini justru akan rusak, dan bisa ditinggalkan wisatawan. Meski pembatasan dilakukan, pihaknya bersyukur, trend wisatawan berkunjung ke desa Penglipuran masih sangat stabil. “Tahun 2025 ini, target kunjungan wisatawan per harinya sebanyak 2.000 orang. Dan, itu sesuai data akhir bulan November, astungkara telah tercapai,” ujarnya.

Dari target tersebut, diharapkan hingga akhir tahun ini, wisatawan yang berkunjung sebanyak 900 ribu wisatawan saja. Sedangkan tahun 2024, tingkat kunjungan tembus 3.000 per hari atau sekitar 1 juta setahun. “Di awal tahun ini, sudah kita targetkan untuk menurunkan di angka 10 sampai 12 persen. Karena kami berpikir terkait keberlanjutan, dan carrying capacity yang hanya 1.500 dan maksimal 2.000 orang per hari,” ujarnya.

Lebih lanjut, untuk tahun 2026, pihaknya tetap memasang target kunjungan 2.000 per hari. “Kita memang butuh pemasukan, tetapi yang utama adalah kita ingin menjaga lingkungan. Jika tiap hari desa kami diinjak oleh 3.000 pengunjung, tentu akan ada dampaknya terhadap tanah kami. Begitu juga sampah, dengan banyaknya pengunjung maka sampah yang ditimbulkan juga banyak. Kita tak ingin hanya mengejar ekonomi, tapi kami ingin membangun keseimbangan,” ujarnya.

Dalam mengatasi jumlah kunjungan yang melampaui target, pihaknya pun beberapa kali telah melakukan buka tutup objek. Ketika jumlah parkir penuh, pihak pengelola akan meminta wisatawan untuk terlebih dahulu mengunjungi objek lain di Bangli. Meskipun ada wisatawan yang komplain. Namun hal tersebut lebih baik, daripada mereka kecewa karena berdesak-desakan di Desa Pengelipuran karena banyaknya pengunjung. “Kalau parkir sudah full, kita sampaikan ke wisatawan untuk menunggu di luar Pengelipuran. Kemarin juga kita sudah koordinasi ke Pemda, agar ada pengalihan wisata, supaya tidak numplek di Penglipuran,” ujarnya. Dalam hal ini, prinsip yang dianut adalah mengimplementasikan konsep Tri Hita Karana. “Kita ingin seimbangkan kondisi alam, sosial budaya dan ekonomi. Dulu leluhur kami dalam membangun desa ini tidak pernah memikirkan ekonomi, hanya kepentingan sosial budaya dan alam. Manfaat ekonomi ini kan baru masuk,” ujarnya.

Meski demikian, Sumiarsa menegaskan bahwa pihaknya tetap membutuhkan promosi. Hal tersebut untuk menguatkan branding Desa Wisata Pengelipuran. Karena itu, pihaknya pun akan merubah sistem tiket. Dimana setiap wisatawan akan dicatat asal mereka. “Dalam sistem kita, kita tidak tahu asal wisatawan kita. Kedepan akan kita benahi, sehingga saat ini promosi masih meraba-raba. Kalau kita punya data itu, maka kita akan bisa tahu kemana sasaran promosi kita,” ujarnya.

Dalam upaya menjaga lingkungan, Sumiarsa juga mengatakan, di tahun 2026 desa wisata ini juga akan memiliki TPS3R. Hebatnya, TPS3R yang dibangun bukan hanya mengelola sampah organik dan non organik, tetapi juga mengelola sampah residu. “Saat ini, kami masih proses pembangunan. Astungkara, bulan ke dua tahun depan sudah bisa kita jalankan. Sehingga branding sebagai desa terbersih semakin kuat. Masalah sampah bisa kira selesaikan sendiri di desa,” pungkas Sumiarsa. (Awd)


Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *