Lulusan S2, Berkeliling Jual Batu Akik

baliterkini.com

Denpasar, Baliterkini.com - Batu akik kini telah menjadi tren dan gaya hidup, sehingga harga batu akik pun memiliki nilai jual yang begitu fantastis. Peluang ini dimanfaatkan oleh Adi Saputra, tiap hari berkeliling menyambangi pasar di kawasan kota Denpasar menjajakan berbagai bentuk corak batu yang masih berupa bongkahan.

Pria asli Dompu, Nusa Tenggara Timur ini adalah orang yang dipercaya atasannya untuk menjajakan barang dagangannya berkeliling menggunakan mobil bak terbuka. Dari atas bak tersebut, terdapat berbagai jenis batu dengan macam nama. Ada bacan, kecubung air, batu merah ati, dan masih banyak lagi. Batu – batu ini didatangkan langsung dari daerah di kawasan timur seperti Kupang, NTB, Flores, Ende, Alor, dan Ternate. Setiap kali berhenti, orang- orang pun serentak mendekat dan memilih yang paling cocok sesuai seleranya.

Seperti yang sempat terlihat di kawasan pasar Kreneng, pekan lalu. Hampir semua usia silih berganti  berdatangan. Ketenaran batu akik seolah menjadi magnet yang mengundang takjub. saat itu, tak peduli terik mentari, transaksi jual beli tetap jalan di atas mobil carry lengkap alat timbangan. Harga jual yang ditawarkan dihitung perkilo, mulai dari Rp 150 sampai Rp 3 juta per kilogram.

Menurut Adi, batu yang memiliki nilai jual  tinggi tergantung dari kwalitasnya. Batu akan tampak lebih cantik bila sudah digosok. Apalagi batu yang berhiaskan gambar atau motif akan menambah sebuah keindahan dan bernilai ekonomi.

“ Sepintas memang nampaknya batu ini seperti batu rumahan untuk bahan pondasi di rumah, kalau sudah digosok baru kelihatan cantiknya, “ ujar pria yang mengaku lulusan Strata 2 ( S2 ).

Sambil sesekali menyiram tiap permukaan batu untuk memunculkan warna, sesekali dia menimpali obrolan demi obrolan calon pembeli seputar soal batu yang dijualnya. Tak sungkan, dia pun mengundang ke tempatnya bekerja untuk menunjukan bentuk lainnya. Bahkan ada pula keunikan batu lain yang mampu menampilkan gaya tarik dari sebuah batang lidi.

“ Memiliki batu akik itu menurut saya sebuah sugesti dari pemakainya, batu itu hidup seperti fosil, “ ungkapnya.

Menjalankan bisnis batu berkeliling terkadang tak semulus batu akik. Saking sibuknya meladeni pembeli, kerap kecurian juga dari ulah tangan jahil yang menyelinap diantara kerumunan. Namun, dia menyikapinya penuh resiko karena berjualan di tempat terbuka.

“ Ya, mau gimana lagi. Kalau dituntut orangnya nda ada, “ ucapnya.

Adi, yang selalu ditemani seorang rekannya kerap berkeliling menyambangi pasar seperti Pasar Kreneng, Pasar Burung, dan Pasar Beringkit. [ BT ]


TAGS :

Komentar