I Gusti Made Arsawan dan Tenun Patra

Beritabali.com
Denpasar, Baliterkini.com - Selama ini motif kain endek dipasaran kebanyakan berbentuk geometeri. Namun seorang desainer tekstil I Gusti Made Arsawan (45) dengan ide kreatifnya mampu membuat kain tradisional motif baru yang bernama Tenun Patra dengan kemasan bagus dan kwalitas terbaik.
 
Kain endek motif baru itu nantinya akan diperkenalkan ke public di ajang Denpasar Festival (Denfest) pada 28-31 Desember 2013. Kain endek patra ini nantinya akan menjadi produk unggulan kreatif dan inovatif dalam Denpasar Festival ke-6 dengan tema Kotaku Rumahku 'Creative Emotion'.
 
"Selama ini karakter endek dipasaran 90 persen motifnya berbentuk geometeri. Saya ingin endek tampil beda sehingga perlu merubah pakem agar fresh dan baru. Motif endek patra berbeda dari kain endek pada umumnya," kata Arsawan saat ditemui di lokasi pembuatan endek patra di Bale Timbang, Penatih, Denpasar Timur.
 
Menurut Arsawan, endek patra ini diciptakan mengambil prinsip tenun tradisional ikat atau endek dengan mengembangkan motif atau pepatraaan yang tidak lazim dalam produksi tenun ikat tradisional. Adapun motif endek patra, kata Arsawan igali dari ornamen nusantara.
 
"Endek selama ini bentuk dan motifnya itu-itu saja. Jadi, kami ingin rombak biar ada sesuatu yang baru dan inovatif dengan multi tehnik dan multi colour. Kami akhirnya membuat produk endek yang terbaik bernama Tenun Patra, tenun Bali seni Nusantara dengan kemasan yang bagus dan kwalitas terbaik," imbuhnya.
 
Bagi Arsawan, selain endek dengan motif baru, bungkusan endek patra juga mengangkat kelas endek menjadi sesuatu yang berbeda. Adapun motif endek patra yakni motif alam dan binatang seperti capung dan kupu-kupu. "Kami ingin dekat dengan alam dan flora. Sekarang terserah masyarakat menilai apakah endek yang saya buat sesuatu yang baru dengan motif dan tema yang berbeda," jelasnya.
 
Pria asal Tabanan itu mengaku proses pembuatan kain Tenun Patra tergolong lama karena dikerjakan dengan teknik yang  rumit dan bereda dengan pembuatan tenun biasa. "Tenun Patra ini merupakan hasil eksperimen dan eksplorasi sejak saya mahasiswa dan terus disempurnakan dengan diberi aksentuasi sampai akhirnya pada awal tahun 2012 diproduksi dan diperkenalkan kepada publik sebagai Tenun Patra," paparnya.
 
Lebih jauh Arsawan menuturkan jika keunggulan Tenun Patra adalah mampu dikembangkan sebagai tenun kontemporer yang memiliki ciri ketidakterbatasan dalam motif dan warna. "Tenun Patra adalah karya seni yang memadukan tradisi tenun tangan dengan motif klasik atau pepatran Bali dalam wujud yang sangat kaya ekspresi, gaya dan warna yang khas," ungkap lulusan ITB Bandung ini.
 
Arsawan menambahkan, hingga kini ia baru bisa memproduksi kain Tenun Patra sekitar 125 lembar per bulan dan untuk satu lembarnya mempunyai ukuran panjang 2,5 meter dan lebar 1,05 meter. "Karena proses pembuatan sangat rumit dan memerlukan waktu lama dan bahannya masih langka dan impor dari China sehingga harganya pun cukup mahal. Bisa tiga kali dari harga tenun biasa. Untuk sementara saya mematok 1,5 juta hingga 15 Juta per lembarnya," tuturnya.
 
Selama ini, sambung Arsawan, promosi endek oleh pemerintah sangat gencar namun pengerajin endek justru menurun. Hal itu, baginya karena pemerintah kurang mendukung permodalan dan pemasaran kain endek. "Profesi menenun saat ini bukan pekerjaan bergengsi. Saya ingin membangkitkan masyarakat agar mau kembali menenun karena menenun pekerjaan yang memberikan hasil," pungkasnya. [BT]

TAGS :

Komentar