Akrab dengan Python di Bedugul

baliterkini.com

Tabanan, Baliterkini.com - Jika anda menuju Obyek Wisata Bedugul dari arah Denpasar, makin tinggi posisi anda berada akan semakin dingin hawa yang akan dirasakan. Seolah pendingin udara mobil seakan tidak perlu lagi dibutuhkan di ketinggian. Suhu pada siang hari bisa rata – rata 25 sampai 26 derajat celcius dan terkadang bisa tertutup awan.

Nah, begitu sampai di areal parkir yang pertama, jangan langsung tiba- tiba kaget bila menemukan ular python dengan ukuran besar di dekat kebun strawberry. Ular ini bukanlah ular liar tapi jinak dan bisa diajak berfoto. Pemandangan ini bisa menjadi suguhan alternatif sebelum menapaki keindahan bedugul yang sesungguhnya.

Ular ini menjadi perhatian pengendara yang kebetulan akan menuju arah bedugul. Dalam sebuah kotak kayu, tertulis “Donation” yang diperuntukan buat dua ekor ular bersama hewan lainnya. Aksi memajang ular ini berada di areal parkir Taman Tanda, Baturiti, Bedugul. Pemandangan ini akan anda lihat setelah melewati jalan tanjakan disertai belokan ke kiri. Begitu melihat parkiran luas disisi jalan raya, serentak akan muncul niat untuk segera berhenti menepikan kendaraan guna merasakan sensasi berada dipuncak bukit dekat perkebunan strawberry. Areal parkir ini cukup nyaman dan menarik, karena punya spot yang menyajikan pemandangan indah.

Dari puncak bukit ini, anda leluasa menatap jauh arah selatan, terhampar perkebunan yang hijau bersanding kebun strawberry, sayur mayur dan atap restoran atau rumah yang ikut menghiasi perlintasan jalan aspal yang menghubungkan Denpasar – Singaraja. Kebun strawberry yang berbuah merah memunculkan hasrat untuk memetiknya langsung.

Tak jauh dari anda berdiri, anda akan dihadapkan ular, burung, monyet, dan iguana sebagai selingan. Jinak? Tentu iya, karena semua hewan  ini ditemani oleh sang pawang mendampingi pengunjung untuk berfoto. “ Tenang , dia tak akan gigit, rileks saja, ularnya jinak kok, “ ucap Made Sukadana, 35 tahun, seraya melilitkan seekor ular ke tubuh wisatawan asing yang tertarik untuk berfoto.

Made Sukadana, memang gemar memelihara ular python sejak 25 tahun silam, untuk itu dia menyalurkan kegemarannya memajang koleksi hewan sebagai mata pencaharian sekaligus mencari biaya hidup hewan kesayanganya ini. Selain ular, ada dua ekor Gibon dan Kalong yang juga menjadi perhatian pengunjung.

Kedua Gibon ini berjenis kelamin perempuan, diberi nama Kiki dan Desi, Biawak bernama Susi, sedangkan dua ekor Python dipanggilnya Gembul dan Temon. Semua binatang ini, memerlukan makan dari sebagian uang donasi yang diberikan oleh wisatawan seiklas-nya. Selain itu, uang yeng terkumpul juga digunakan sang pawang sebagai kesejahteraan hidup keluarga serta buat piaraannya yang membantu sebagai daya tarik wisatawan.

“ Kalau ini (Red- Python ) sudah pasti makan 600 ribu per bulan, mereka suka makan kelinci, bisa 10 ekor dimakannya dalam sebulan, “ ungkap Made Sukadana yang juga sebagai seorang Mangku Alit di Pura Dalem desa setempat.

Sukadana, dalam aksinya ini tak sendiri, kadang ditemani oleh putrinya berumur 8 tahun, masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Ia tak kalah berani seperti ayahnya memegang dan melilitkan ular ke tubuhnya yang tak sebanding dengan ukuran ular. Disela waktu sekolah, putrinya kerap menemani sang ayah menghibur wisatawan, menemani hewan jinak seraya menawarkan makanan ditujukan ke wisatawan untuk ikut berinteraksi dengan binatang sambil berfoto. Ular yang bikin sebagian orang takut namun kadang penasaran, memiliki panjang 3 meter untuk si Temon dan 5 meter untuk si Gembul yang punya bobot 45 kilogram.

Keakraban Sukadana bersama hewan jinak ini, dapat disaksikan saban hari, mulai dari pukul 9 pagi sampai pukul 4 sore. Bermodal senyum ramah, dibarengi hewan yang jinak selaras dengan keindahan dan udara dingin di Bedugul yang ramah. “ Disinilah tempat kami mencari uang untuk hidup, kalau tidak ada “Petoyan” ( Red-Upacara di Pura ), pasti disini, “ tambahnya. [BT]


TAGS :

Komentar