Solusi Cerdas Pemanfaatan Koran Bekas

baliterkini.com

Jembrana, Baliterkini.com - Koran bekas yang kebanyakan orang dibiarkan begitu saja setelah habis dibaca rupanya bisa disulap jadi kerajinan tangan menarik. Dari koran bekas, berbagai bentuk sarana upacara dibikin menghandalkan daya kreasi serta keseriusan. Peminatnya banyak  dari kaum perempuan bahkan orang asing yang tahu keberadaan produk kerajinan ini  lewat internet. Keben Koran pun bisa meramaikan pasar kerajinan dari tangan- tangan terampil sekaligus mendorong dan memberi semangat bagi yang memiliki semangat hidup.

Komunitas Jalak Bali Jembrana berperan memproduksi kerajinan ini, bertempat di Desa Baluk, Kecamatan Negara, komunitas ini merupakan komunitas sosial yang sering melakukan  kegiatan pendampingan serta pemberdayaan ODHA ( Orang Dengan HIV/AIDS ) mampu berinovasi memberdayakan orang dengan postif HIV/AIDS. Daya kreatifitas ini diwujudkan dalam mengolah koran bekas menjadi barang yang bermanfaat. Salah satunya kerajinan yang dapat dipakai untuk keperluan upacara, seperti Keben, Bokor, dan Tempat Tisu.

I Made Suarnayasa, 36 tahun, adalah sosok inovatif. Ia bersama  rekan-rekan dalam satu komunitas mulai intens menciptakan kerajinan dari koran bekas. Kegiatan ini mereka lakukan sudah dua bulan dan mampu menarik peminat dari kalangan perempuan bahkan orang asing yang turut peduli dengan komunitas ini. Hasil produksinya pun laris manis terjual, kebanyakan malah pesanan. Bahkan, hasil kerajinannya belum lama ini sempat dipamerkan di ajang lomba desa di Desa Baluk, Jembrana, Bali.

Suarnayasa mengatakan, ide untuk membuat hasil kerajinan ini bermula dari kepedulian lingkungan yang ramah serta bernilai. Selain ramah lingkungan, apa yang dilakukannya ini diharapkannya bisa lebih memperdayakan mereka yang positif dengan HIV/AIDS. Setelah dilatih, mereka bisa bekerja dari rumah dan bisa mandiri, hasil kerajinan yang mereka jual akan secara otomatis membantu dalam upaya pencegahan virus HIV, “ ujarnya.

Suarnayasa, sekaligus Ketua Komunitas Jalak Bali mengatakan pihaknya juga memproduksi kerajinan di rumahnya dibantu sang istri, Sayu Putu Widiati juga relawan lainnya berperan serta memberdayakan kaum perempuan yang hidup dalam kehidupan suram. Kehidupan suram ini tidak serta merta mematahkan semangat mereka untuk kembali  mengubah diri di masyarakat. Di halaman rumah seluas 10 are ini, berbagai bentuk kerajinan bisa ditemui.

Para pekerja kebanyakan kaum perempuan dari relawan, bahkan sesekali dibantu oleh tenaga yang kebetulan dalam tahap rehabilitasi.
Untuk menciptakan satu buah Bokor perlu ketelatenan. Beberapa bentuk memiliki kerumitan, tergantung dari variasi, bentuk dan motif. Untuk itu, Suarnayasa bersama rekan lainnya melatih dulu rekan-rekannya, dan setelah mereka menguasai dilepas sehingga bisa bekerja secara mandiri, cukup bekerja dari rumah masing-masing. Sehingga upaya kecil ini mampu menekan rasa rendah diri bagi kaum yang positif dengan HIV, sehingga mereka bisa hidup berdampingan di tengah-tengah masyarakat.

Dikatakannya, ada beberapa tahapan yang dilakukan sebelum akhirnya menjadi barang yang memiliki nilai ekonomi. Dalam satu Keben ini misalnya, tingkat penyelesaiaan bisa dikerjakan 1-3 hari, tergantung variasi dan ukuran. Jumlah kertas yang sebelumnya dilinting juga bergantung dari ukuran, jika ukuran Keben 14 cm x 9 cm memerlukan 70 lintingan koran bekas.

Masing-masing linting panjangnya 60 cm. Proses linting ini merupakan tahap awal yang selalu dilakukan sebelum dirangkai. Untuk menjadikan lebih kuat dan kokoh, seluruh permukaan dilapisi lem FOX dan dibuat lebih menarik dengan tambahan varnish, “ Kendati berbahan kertas, kerajinan ini cukup kuat, jika direndam selama tiga hari lalu di robek baru bisa rusak, “ ujar Suarnayasa.

Selain menciptakan Keben bermotif, pihaknya juga membuat jenis klasik, yakni tanpa menambahkan varnish atau hiasan yang mencolok. Keben dibiarkan sedemikian rupa tanpa menghilangkan bentuk dasar dari kertas Koran tersebut. Model klasik ini rupanya mengundang ketertarikan dari sejumlah pembeli dari negara Korea, Jepang, dan Perancis, “ Mereka tertarik melihat di media sosial, dan membelinya dengan online, “ imbuh Suarnayasa.

Suarnayasa mengatakan bahan- bahan tidak terlalu sulit diperoleh, seperti koran bekas, lem G, dan lainnya termasuk pewarna agar mirip terbuat dari kayu rotan. Satu Keben yang sudah jadi ini menghabiskan Koran tidak terlalu banyak. Bahkan karena ketekunannya, banyak dari pihak lain menawarkan koran bekas secara cuma-cuma. Sehingga apa yang dilakukannya ini membuat kebanyakan tidak percaya kalau kerajinan ini berasal dari bahan kertas koran. Langkah sederhana ini akhirnya mampu meningkatkan minat dan mendatangkan peminat, karena nilai ekonomisnya.

Kalau hasilnya bagus, Keben yang kuat bila dipukul dibagian bawahnya akan bersuara. Sekilas memang seperti terbuat dari bahan rotan, sepintas seperti membutuhkan modal besar. Harga untuk satu buah bergantung dari jenis dan variasi, satu buah hasil kerajinan dari kertas ini mulai dengan harga Rp.50.000 sampai Rp.300.000. Dengan membangun usaha dari rasa kemanusiaan ini, prospek kerajianan tangan berbahan koran mampu mengangkat derajat manusia sekaligus menarik minat sejumlah kalangan dalam berbagi. [BTcom]


TAGS :

Komentar